Kamis, 5 April 2029
Mengapa Kamu Menatap Kami?
Kabel listrik tidak pernah menyala. Ia hanya mengalirkan. Yang menyala adalah lampu, dan yang memberi daya adalah pembangkit nun jauh di sana. Tetapi coba cabut kabelnya, seisi rumah langsung gelap. Kabel itu penting justru karena ia tahu dirinya bukan sumber.
Sesudah orang lumpuh di Gerbang Indah berjalan, orang banyak mengerumuni Petrus dan Yohanes dengan mata takjub. Ini saat yang berbahaya. Sedikit saja Petrus diam dan tersenyum, ia akan pulang sebagai orang sakti. Tetapi Petrus buru-buru memindahkan sorotan: mengapa kamu menatap kami, seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Lalu ia menunjuk jauh dari dirinya: Allah telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus. Kepercayaan dalam nama Yesus itulah yang menguatkan orang ini.
Petrus tahu dirinya kabel, bukan pembangkit. Dan justru karena itu ia berani dipakai untuk mengalirkan kuasa yang besar.
Dalam Injil, Yesus yang bangkit berdiri di tengah para murid dan menutup pesan-Nya dengan kalimat pendek: kamu adalah saksi dari semuanya ini. Saksi itu profesi yang rendah hati. Di pengadilan, saksi yang baik tidak bercerita tentang dirinya. Ia menunjuk kepada peristiwa yang dilihatnya. Begitu ia sibuk memoles diri, kesaksiannya justru diragukan.
Kita hidup di zaman yang gemar sorotan. Kebaikan kecil ingin segera diketahui orang, pelayanan diam-diam terasa rugi. Tidak ada yang salah dengan dikenal. Yang berbahaya adalah lupa: ketika pujian datang, ke mana ia kita alirkan? Berhenti di kita, atau diteruskan kepada Sang Pembangkit?
Petrus memberi teladan yang bisa ditiru siapa saja. Terima pujian dengan sopan, lalu teruskan ke atas. Bukan kuasa kami, bukan kesalehan kami. Nama Yesus yang bekerja. Kalimat sesederhana itu menjaga hati tetap jernih, dan menjaga aliran tetap mengalir. Sebab kabel yang mulai merasa dirinya sumber cahaya biasanya sedang menuju putus.
Tuhan, jadikanlah aku penghantar yang baik bagi kuasa dan kasih-Mu, dan jangan biarkan pujian berhenti di tanganku. Amin.