Rabu, 4 April 2029
Yang Tidak Ada di Kantong
Di depan pasar atau gereja, ketika sebuah tangan menengadah ke arah kita, gerakan kita hampir selalu sama: meraba kantong. Kalau kantong kosong, kita menunduk dan lewat, merasa tidak punya apa-apa untuk diberikan.
Petrus dan Yohanes mengalami saat seperti itu di Gerbang Indah. Seorang lumpuh sejak lahir meminta sedekah. Dan Petrus memberi jawaban yang jujur sekaligus mengejutkan: emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu. Lalu dalam nama Yesus Kristus ia menyuruh orang itu berjalan. Kantongnya kosong, tetapi tangannya tidak. Ia memegang tangan orang itu dan membantunya berdiri.
Orang lumpuh itu meminta receh, dan menerima kaki. Ia meminta terlalu kecil. Bertahun-tahun duduk di gerbang membuat harapannya menyusut seukuran uang logam. Betapa sering doa kita juga begitu: meminta sekadar cukup untuk hari ini, padahal Allah sedang ingin membuat kita berdiri dan melompat.
Injil hari ini menceritakan pemberian yang serupa. Dua murid berjalan ke Emaus dengan muka muram. Orang asing yang menyertai mereka juga tidak memberi uang atau jalan keluar praktis. Ia memberi kehadiran, telinga yang mendengarkan, Kitab Suci yang diterangkan, dan akhirnya roti yang dipecah. Hati mereka berkobar, mata mereka terbuka. Yang mereka terima tidak bisa dimasukkan kantong, tetapi cukup membuat mereka bangun malam itu juga dan berjalan pulang ke Yerusalem.
Kita sering menunda berbuat baik dengan alasan belum punya. Nanti kalau gajiku besar, aku akan menolong. Nanti kalau hidupku mapan, aku akan melayani. Padahal yang paling dibutuhkan orang di sekitar kita jarang berbentuk uang. Waktu setengah jam. Telinga yang sabar. Tangan yang membantu berdiri. Nama Yesus yang disebut dengan yakin. Semuanya sudah ada pada kita hari ini.
Maka pertanyaan sore ini sederhana. Kalau seseorang menengadahkan tangan kepadaku dan kantongku kosong, masihkah aku merasa punya sesuatu untuk diberikan?
Tuhan, Engkau tahu isi kantongku dan isi hatiku. Ajarilah aku memberi dari yang sungguh kupunya: waktu, perhatian, dan nama-Mu. Amin.