Selasa, 3 April 2029
Disangka Tukang Kebun
Kita sering gagal mengenali orang di luar tempat biasanya. Guru yang berwibawa di kelas, ketika berpapasan di pasar dengan kaus oblong dan tas belanja, membuat kita ragu menyapa. Wajahnya sama, tetapi tempatnya salah, maka mata kita tidak percaya.
Hal itu pula yang terjadi pada Maria Magdalena. Ia menangis di depan kubur, menoleh, dan melihat Yesus berdiri di situ. Tetapi ia menyangka orang itu penunggu taman. Yesus yang ia cari sedang berdiri di depan matanya, dan ia malah menawar: tuan, kalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah di mana tuan meletakkan Dia.
Salah sangka Maria sebenarnya indah, sebab hampir benar. Kitab Suci dibuka di sebuah taman, dan manusia pertama ditugasi mengolah serta memeliharanya. Kini, di pagi pertama ciptaan baru, Yesus memang sedang berkebun: menanam kembali kehidupan justru di tanah pekuburan, tempat orang biasa menanam kematian. Maria tidak sepenuhnya keliru. Ia hanya belum tahu betapa benarnya dugaan itu.
Lalu semuanya berubah oleh satu kata: Maria. Bukan uraian panjang, bukan pembuktian, hanya namanya sendiri, diucapkan dengan suara yang ia kenal. Air matanya belum kering, tetapi telinganya lebih cepat dari matanya. Rabuni, jawabnya. Dan detik itu juga ia mendapat tugas menjadi pewarta kebangkitan yang pertama: pergilah kepada saudara-saudara-Ku.
Dalam bacaan pertama, pendengar Petrus tertusuk hatinya lalu bertanya: apakah yang harus kami perbuat? Jawabannya sederhana, bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Tiga ribu orang mengambil langkah itu pada hari yang sama. Pertemuan dengan Tuhan yang bangkit memang selalu berujung pada langkah, bukan hanya pada haru.
Kita pun sering mencari Tuhan di tempat yang kita anggap pantas bagi-Nya: gedung megah, peristiwa besar, pengalaman rohani yang menggetarkan. Padahal Ia gemar berdiri di tempat biasa, menyamar dalam rupa sehari-hari, seperti penunggu taman. Jangan-jangan hari ini pun Ia sudah menyapa kita lewat orang yang tidak kita perhatikan.
Tuhan Yesus, bukalah mataku yang sering silau oleh yang megah, agar aku mengenali Engkau dalam rupa yang sederhana. Amin.