Senin, 2 April 2029
Takut dan Sukacita Berlari Bersama
Di depan ruang bersalin, seorang ayah muda mondar-mandir. Ketika tangis bayi pertamanya terdengar, wajahnya jadi aneh: matanya basah, bibirnya tertawa. Ternyata takut dan bahagia bisa tinggal dalam satu dada pada saat yang sama.
Matius mencatat perasaan para perempuan di pagi Paskah dengan kejujuran yang sama: mereka pergi dari kubur dengan takut dan dengan sukacita yang besar, lalu berlari cepat-cepat. Perhatikan urutannya. Takutnya tidak hilang dulu. Mereka tidak menunggu hati tenang baru bergerak. Dua perasaan yang bertolak belakang itu dibawa lari bersama-sama. Dan justru di tengah jalan itulah Yesus menjumpai mereka.
Salam-Nya pendek saja: salam bagimu, jangan takut. Yesus tidak menegur ketakutan mereka. Ia menyapanya, lalu memberi tugas: pergi dan kabarkan. Rupanya Tuhan tidak menuntut hati yang sudah rapi. Ia cukup meminta kaki yang mau melangkah.
Di bagian kedua Injil hari ini ada rombongan lain yang juga berlari ke kota: para penjaga kubur. Berita yang mereka bawa sama, kubur itu kosong. Tetapi berita itu lalu ditangani dengan rapat para tokoh, sejumlah besar uang, dan janji perlindungan dari wali negeri. Coba hitung. Kebenaran diberitakan cuma-cuma oleh beberapa perempuan yang gemetar. Dusta membutuhkan sidang, dana besar, dan koneksi pejabat. Sampai hari ini polanya tidak banyak berubah: dusta selalu mahal perawatannya, kebenaran cukup dibawa lari.
Dalam bacaan pertama Petrus berdiri di Yerusalem dan berkata terus terang: kubur Daud masih ada pada kita sampai hari ini. Kubur Yesus juga masih ada. Hanya saja isinya yang tidak ada, sebab tidak mungkin maut menahan Dia.
Banyak dari kita menunda melangkah karena menunggu rasa takut hilang dulu. Takut memaafkan, takut bersaksi, takut memulai hidup yang baru. Pagi Paskah mengajarkan cara lain: bawa saja takutmu ikut berlari. Yesus biasa menjumpai orang bukan di garis akhir, melainkan di tengah jalan.
Tuhan Yesus, aku tidak menunggu takutku hilang. Jumpailah aku di tengah jalan, seperti Engkau menjumpai para perempuan itu. Amin.