‹ Semua renungan

Minggu, 1 April 2029

Berangkat Selagi Gelap

Pasar kampung sudah hidup jauh sebelum matahari terbit. Pukul tiga para bakul menata dagangan, pukul empat pembeli pertama datang menawar. Orang pasar memegang satu ilmu sederhana: siapa menunggu terang, ia kebagian sisa.

Injil Paskah dibuka dengan keterangan waktu yang mudah kita lewati: pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Maria Magdalena pergi ke kubur. Masih gelap. Ia tidak menunggu matahari. Ia berangkat membawa duka dan sisa harapan yang ia sendiri tidak tahu bentuknya. Justru karena berani berangkat selagi gelap, ia menjadi manusia pertama yang melihat batu itu sudah terguling.

Menariknya, kebangkitan sendiri tidak punya saksi mata. Tidak seorang pun melihat detik Yesus bangkit. Yang orang lihat hanyalah bekasnya: batu terguling, kubur kosong. Seperti benih yang berkecambah di dalam tanah. Tidak ada yang menonton prosesnya, tetapi tunasnya nyata menembus permukaan. Paulus menyebutnya dengan indah dalam bacaan kedua: hidupmu tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Karya Allah yang paling besar sering bekerja diam-diam, di tempat yang tidak kita tonton.

Petrus dan murid yang dikasihi berlari menyusul. Yohanes jujur mencatat: mereka belum mengerti isi Kitab Suci. Murid itu melihat, lalu percaya, baru kemudian mengerti. Urutannya terbalik dari kebiasaan kita. Kita mau paham dulu, baru percaya. Iman Paskah berjalan sebaliknya: melangkah dulu dalam gelap, terang menyusul di jalan.

Dalam bacaan pertama Petrus merangkum semuanya di rumah Kornelius. Allah berkenan menampakkan Dia bukan kepada seluruh bangsa, katanya, melainkan kepada saksi-saksi yang makan dan minum bersama Dia. Kebangkitan tidak dipamerkan di alun-alun. Ia dipercayakan kepada segelintir orang biasa, untuk diteruskan dari mulut ke mulut, dari meja ke meja, sampai tiba di telinga kita pagi ini.

Hari ini kita berdiri di pagi yang sama. Mungkin ada bagian hidup kita yang masih gelap: kesehatan, rumah tangga, pekerjaan, kehilangan yang belum selesai ditangisi. Paskah tidak menunggu semuanya terang dulu baru datang. Paskah justru dimulai ketika seseorang mau berangkat selagi gelap. Beranikah kita melangkah pagi ini?

Tuhan yang bangkit, temanilah aku berjalan ketika hariku masih gelap, sampai mataku melihat batu-batu yang telah Kaugulingkan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →