‹ Semua renungan

Sabtu, 31 Maret 2029

Hari yang Hening

Ada satu hari dalam setahun ketika Gereja seakan menahan napas. Sabtu Suci adalah hari tanpa Misa di pagi dan siang hari, altar kosong, tabernakel terbuka dan hampa. Kemarin salib, besok fajar, tetapi hari ini hanya keheningan. Sebuah hari yang seolah kosong.

Namun justru keheningan itu punya makna yang dalam. Ingatlah kisah penciptaan yang dibacakan pada Malam Paskah, "Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan-Nya, berhentilah Ia pada hari ketujuh." Pada hari Sabat, Allah beristirahat sesudah menciptakan dunia. Dan pada Sabtu Suci ini, Allah kembali beristirahat, kali ini di dalam kubur, sesudah menyelesaikan karya penebusan. Tubuh yang lelah oleh salib kini berbaring diam, seperti Pencipta yang berhenti pada hari ketujuh.

Keheningan bukan berarti ketiadaan. Di dalam tanah, benih yang tampak mati justru sedang bersiap. Petani tahu, sesudah menabur, ia harus menunggu dalam diam. Sabtu Suci mengajari kita seni yang paling sulit bagi manusia zaman ini: menunggu dengan percaya di tengah hening.

Lalu datanglah kalimat yang mengubah segalanya. "Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu." Perhatikan, hari pertama. Sama seperti dahulu Allah berfirman, "Jadilah terang," dan hari pertama pun jadi, kini fajar hari pertama yang baru menyingsing di atas sebuah kubur. Penciptaan diulang. Dunia dimulai lagi.

Paulus menghubungkannya dengan kita, "Kita telah dikuburkan bersama Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya kita hidup dalam hidup yang baru." Air baptis adalah kubur sekaligus rahim. Kita ikut turun ke dalam hening Sabtu itu supaya ikut bangkit di fajar pertama.

Barangkali tidak ada yang lebih memahami hari ini selain Bunda Maria. Ketika para murid tercerai-berai, ia menyimpan segala sesuatu dalam hatinya dan tetap percaya, walau yang di depan matanya hanyalah sebuah makam yang tertutup. Sabtu Suci adalah hari kesetiaan yang sabar, hari orang-orang yang tetap tinggal ketika segala tanda seakan berkata sudah berakhir.

Malaikat berkata kepada para perempuan, "Janganlah kamu takut. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit." Keheningan yang panjang itu ternyata bukan akhir, melainkan ambang.

Mungkin hidup kita sedang berada di sebuah Sabtu yang sunyi, di antara kehilangan yang sudah lewat dan fajar yang belum datang. Malam ini mengajak kita percaya: Allah bekerja bahkan dalam diam, dan fajar-Nya pasti menyingsing.

Tuhan, dalam keheningan Sabtu ini aku menunggu dengan percaya. Bangkitkan aku bersama-Mu di fajar hidup yang baru. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →