Jumat, 30 Maret 2029
Sang Pemberi Air Berkata Haus
Sepanjang masa Prapaskah ini, air seakan mengalir di banyak bacaan kita. Air dari gunung batu di padang gurun. Sumur Yakub tempat perempuan Samaria menimba. Kolam Betesda. Sungai yang keluar dari Bait Suci dalam penglihatan Yehezkiel. Berulang kali Yesus menawarkan diri sebagai air hidup yang memadamkan segala dahaga.
Maka ada satu kata dari salib yang menggetarkan justru karena bertentangan dengan semua itu. Di atas kayu salib, Dia yang berjanji, "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya," kini berkata dengan bibir kering, "Aku haus."
Sang Pemberi air berkata haus. Sumber yang tak pernah kering itu membiarkan diri-Nya kehausan. Inilah kedalaman misteri hari ini: Ia yang memiliki segala memilih kehilangan segala. Ia yang memuaskan dahaga dunia membiarkan tenggorokan-Nya sendiri terbakar.
Yesaya sudah menubuatkannya berabad sebelumnya, "Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya. Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Sepanjang bulan ini kita mendengar tentang penyembuhan: Naaman yang tahir, orang lumpuh yang berjalan, orang buta yang melihat. Hari ini kita mengerti dari mana semua kesembuhan itu berasal. Ia menyembuhkan dengan menanggung sakit kita. Ia memberi air dengan menahan haus.
Ada dahaga yang tidak bisa diobati air mana pun. Pemazmur menyebutnya, "Seperti rusa merindukan sungai, jiwaku merindukan Engkau." Di salib, Yesus seakan memikul juga dahaga itu, kerinduan seluruh umat manusia akan Allah, yang selama ini kita coba padamkan dengan seribu cara yang keliru. Ia menanggung dahaga kita sampai ke titik yang paling dalam, dan menanggungnya sampai tuntas.
Surat Ibrani menyebut-Nya Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit. Namun hari ini biarlah kita tidak buru-buru menjelaskan. Ada saat untuk menganalisis, dan ada saat untuk berdiri diam di kaki salib.
Sebab dari lambung-Nya yang ditikam, Injil mencatat, mengalir keluar darah dan air. Bahkan dalam kematian-Nya, air itu masih mengalir. Dahaga-Nya menjadi mata air bagi kita. Ia kehausan supaya kita tidak lagi haus untuk selama-lamanya.
Hari ini kita tidak diminta banyak berkata. Kita hanya diminta memandang, dan membiarkan hati tergerak: seluruh dahaga terdalam kita ternyata ditanggung oleh Dia yang menggantung di kayu.
Yesus yang tersalib, Engkau kehausan agar aku boleh minum. Di kaki salib-Mu aku diam, dan mengucap syukur. Amin.