Kamis, 29 Maret 2029
Tuhan yang Berlutut
Di rumah zaman dahulu, pekerjaan membasuh kaki adalah tugas hamba yang paling rendah. Jalanan berdebu, orang berjalan bersandal terbuka, dan kaki tamu selalu kotor ketika tiba. Maka disediakan seorang budak paling hina untuk membungkuk membasuh kaki para tamu. Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dari itu.
Malam itu, sebelum perjamuan terakhir, Yesus bangun, menanggalkan jubah-Nya, mengikatkan kain pada pinggang, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya. Sang Guru mengambil tempat seorang budak. Bayangkan, tangan yang membuka mata orang buta dan membangkitkan Lazarus kini memegang kaki yang berdebu, satu per satu, termasuk kaki Yudas yang sebentar lagi mengkhianati-Nya.
Petrus menolak, "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku? Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Bagi Petrus, ini terbalik. Guru tidak seharusnya berlutut di hadapan murid. Tetapi Yesus menjawab, "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." Untuk ikut dalam Kristus, kita harus rela dibasuh lebih dulu, rela menerima kerendahan hati-Nya.
Sesudah selesai, Yesus memberi perintah, "Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat." Dari sinilah nama hari ini dalam tradisi Latin, dies mandati, hari perintah. Perintah barunya sederhana sekaligus berat: saling melayani, saling membasuh.
Pada malam yang sama, Ia menetapkan Ekaristi. Rasul Paulus meneruskan kata-kata-Nya, "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu." Membasuh kaki dan memecah roti sebenarnya satu gerakan yang sama: tubuh yang diberikan, hidup yang dicurahkan bagi orang lain.
Semua ini berakar jauh di Mesir, pada malam Paskah pertama, ketika darah anak domba menyelamatkan umat dari maut. Kini Anak Domba yang sejati sendiri yang akan dikurbankan, dan sebelum itu Ia berlutut membasuh kaki kita.
Yang Yesus lakukan bukan sekadar upacara. Ia sedang membalik seluruh cara dunia mengukur kebesaran. Di mata dunia, yang besar adalah yang dilayani. Di mata Kristus, yang besar adalah yang melayani. Kekuasaan sejati, kata-Nya lewat perbuatan, bukan tentang seberapa banyak orang tunduk kepada kita, melainkan seberapa rendah kita mau membungkuk bagi mereka. Itulah sebabnya Ia menyebutnya teladan, bukan sekadar pilihan.
Kaki siapa yang Tuhan minta aku basuh, justru yang paling enggan kusentuh?
Tuhan, Engkau berlutut di hadapanku. Beri aku hati yang rela membungkuk melayani, bahkan mereka yang menyakitiku. Amin.