‹ Semua renungan

Rabu, 28 Maret 2029

Harga Seorang Sahabat

Segala sesuatu di pasar punya harga. Beras, ikan, sayur, semua bisa ditawar dan disepakati angkanya. Tetapi ada hal-hal yang seharusnya tidak pernah masuk daftar harga: kesetiaan, persahabatan, seorang guru yang mengasihi kita.

Injil hari ini mencatat sebuah tawar-menawar yang memilukan. Yudas datang kepada imam-imam kepala dan bertanya, "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia?" Ia sedang memasang harga atas Sang Guru. Mereka menimbang tiga puluh uang perak. Menurut hukum lama, itu harga seorang budak. Guru dan Tuhannya dihargai setara seorang hamba.

Yang mengerikan bukan besar kecilnya angka, melainkan bahwa cinta bisa diubah menjadi transaksi. Sekali seseorang dilihat sebagai barang, ia kehilangan wajahnya. Yudas tidak lagi memandang Yesus sebagai sahabat, melainkan sebagai peluang.

Pada perjamuan, ketika Yesus berkata seorang akan menyerahkan Dia, para murid bertanya satu per satu, "Bukan aku, ya Tuhan?" Yudas pun ikut bertanya, tetapi dengan sebutan yang berbeda, "Bukan aku, ya Rabi?" Ia menyebut Yesus "Guru," bukan "Tuhan." Ada jarak dingin dalam panggilannya, seolah hatinya sudah menutup pintu.

Yang memilukan, Yudas sudah menerima uang itu ketika ia duduk makan bersama Yesus. Di dalam kantongnya sudah ada tiga puluh keping, dan mulutnya masih sempat bertanya, "Bukan aku?" Dosa memang sering datang dengan wajah tenang, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, sementara di baliknya kesepakatan gelap sudah ditandatangani.

Bacaan pertama menampilkan wajah yang berlawanan. Sang Hamba berkata, "Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi." Sementara Yudas menjual, Yesus justru menyerahkan diri dengan sukarela. Yang satu menghitung untung, yang lain memberi tanpa syarat.

Kita pun bisa memasang harga atas hal-hal suci: menukar kejujuran dengan keuntungan, menukar persahabatan dengan gengsi, menukar iman dengan kenyamanan. Setiap kali itu terjadi, tiga puluh keping perak berpindah tangan diam-diam.

Yang membedakan kita dari Yudas bukanlah bahwa kita tak pernah tergoda menjual, melainkan apakah kita mau berbalik sebelum terlambat. Selalu ada saat untuk membatalkan tawar-menawar itu, untuk mengembalikan keping perak, untuk memandang kembali wajah yang hampir kita jadikan sekadar barang.

Adakah sesuatu yang berharga yang diam-diam sedang kutawar demi keuntungan kecil?

Tuhan, jagalah aku dari menjual yang suci demi harga murah. Biar aku mengenal-Mu sebagai Tuhan, bukan sekadar Guru yang mudah kutinggalkan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →