Selasa, 27 Maret 2029
Dikhianati dari Meja Sendiri
Di banyak budaya, termasuk kita, makan bersama adalah tanda kepercayaan yang paling dalam. Orang yang kita ajak semeja adalah orang yang kita anggap saudara. Ada ikatan yang tak tertulis: yang berbagi nasi tidak akan saling melukai.
Justru di meja itulah pengkhianatan terjadi. Malam itu Yesus makan bersama murid-murid-Nya, lalu berkata dengan hati yang sangat terharu, "Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Bukan musuh dari luar, melainkan seseorang yang mencelupkan tangan ke pinggan yang sama.
Yesus bahkan memberikan sepotong roti kepada Yudas, sebuah tanda kehormatan bagi tamu istimewa. Sampai saat terakhir, Ia masih memperlakukan si pengkhianat sebagai sahabat. Cinta tidak berhenti hanya karena akan dikhianati.
Sesudah Yudas menerima roti itu, ia segera keluar. Dan Injil mencatat satu kalimat pendek yang terasa dingin, "Pada waktu itu hari sudah malam." Itu bukan sekadar keterangan waktu. Yudas melangkah dari terang meja menuju kegelapan malam, dari persekutuan menuju kesendirian.
Injil juga mencatat bahwa Yesus "sangat terharu" ketika mengatakan semua itu. Ia tidak dingin menghadapi pengkhianatan. Hatinya terluka, seperti hati siapa pun yang dikecewakan orang terdekat. Allah kita bukan Allah yang kebal terhadap sakit.
Ada satu hal yang mengejutkan. Justru sesudah Yudas pergi menuju pengkhianatan, Yesus berkata, "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan." Di ambang saat paling gelap, Ia berbicara tentang kemuliaan. Bagi Yesus, kemuliaan bukan pada takhta yang gemerlap, melainkan pada kasih yang diserahkan sampai habis, bahkan bagi yang mengkhianati-Nya.
Tetapi bukan hanya Yudas yang gagal malam itu. Petrus, yang begitu yakin, "Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu," justru mendapat nubuat pahit, "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Dua murid tersandung di malam yang sama. Bedanya, yang satu pergi ke dalam gelap dan tak kembali, yang lain menangisi kesalahannya dan pulang.
Yesaya menggambarkan Sang Hamba yang merasa telah bekerja sia-sia, "Aku telah bersusah-susah dengan percuma," namun tetap menyerahkan haknya kepada Tuhan. Yesus pun mengalami kesia-siaan itu: dikhianati dari meja-Nya sendiri, tetapi tetap melangkah maju.
Kita bisa menjadi Yudas atau Petrus. Keduanya jatuh, tetapi hanya satu yang membiarkan dirinya dipulihkan.
Ketika aku tersandung, akankah aku pergi ke dalam malam, atau kembali sambil menangis?
Tuhan, ketika aku mengkhianati-Mu dengan dosaku, jangan biarkan aku hilang ke dalam gelap. Panggil aku kembali seperti Petrus. Amin.