Senin, 26 Maret 2029
Wangi yang Boros
Bau punya kuasa mengisi seluruh ruangan tanpa terlihat. Cukup setetes minyak wangi, dan seisi rumah tahu ada sesuatu yang istimewa. Injil hari ini mencatatnya dengan indah, "Bau minyak semerbak di seluruh rumah itu."
Enam hari sebelum Paskah, di Betania, Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Minyak itu bernilai tiga ratus dinar, hampir setahun upah seorang buruh. Ia menuangkannya sekaligus, tanpa menakar, tanpa menyisakan.
Yudas protes dengan alasan yang kedengaran mulia, "Mengapa minyak ini tidak dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?" Kedengarannya masuk akal, bahkan saleh. Tetapi Injil membuka kartunya: ia berkata begitu bukan karena peduli orang miskin, melainkan karena ia pencuri yang biasa mengambil dari kas.
Di sini bertemu dua cara memandang. Yudas menghitung, Maria mencurahkan. Bagi Yudas, cinta yang tidak menghasilkan apa-apa adalah pemborosan. Bagi Maria, cinta memang tidak menghitung. Ada saat ketika mengukur dan menakar justru mengkhianati kasih itu sendiri.
Perhatikan juga di mana Maria menaruh minyak itu: bukan di kepala, melainkan di kaki, bagian tubuh yang paling rendah, yang berdebu oleh jalan. Cinta sejati tidak sibuk menjaga gengsi. Ia rela membungkuk, bahkan menyeka dengan rambutnya sendiri, mahkota kebanggaan seorang perempuan.
Yesus membela Maria, "Biarkanlah dia. Ia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku." Tanpa Maria sadari, perbuatannya menubuatkan kematian Yesus yang sudah di ambang. Maria seakan mengerti apa yang belum dimengerti para murid. Sementara yang lain masih berdebat soal untung rugi, ia sudah menyiapkan tubuh Yesus bagi penguburan. Cinta sering melihat lebih jauh daripada perhitungan.
Ada latar yang menyentuh di ruang itu. Lazarus, yang baru saja dibangkitkan, ikut duduk makan. Kehidupan yang dikembalikan kini menjelma menjadi perjamuan syukur. Tetapi di luar, para imam kepala malah bermufakat hendak membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang percaya kepada Yesus. Betapa aneh hati manusia: bukti kehidupan pun bisa membangkitkan niat membunuh.
Nabi Yesaya melukiskan Sang Hamba yang lembut, yang tidak memutuskan buluh yang patah terkulai. Kelembutan menyambut kelembutan. Cinta Maria yang boros menyongsong cinta Kristus yang tak terhitung nilainya.
Adakah cinta yang selama ini kutahan karena kuhitung terlalu mahal untuk dicurahkan?
Tuhan, ajari aku mencintai tanpa menakar, seperti Maria yang mencurahkan seluruh minyaknya bagi-Mu. Amin.