Minggu, 25 Maret 2029
Sorak yang Cepat Berubah
Siapa pun yang pernah ikut arak-arakan tahu betapa mudahnya suara orang banyak berubah. Sore ini bersorak mengelu-elukan, besok pagi bisa berbalik mencemooh. Kerumunan punya hati yang cepat panas dan cepat dingin.
Hari ini kita memasuki Pekan Suci dengan Minggu Palma. Yesus masuk ke Yerusalem, dan orang banyak menyambut-Nya dengan daun-daun palma sambil berseru, "Hosana!" Kata Hosana sendiri sebenarnya sebuah seruan minta tolong, artinya kurang lebih, "Selamatkanlah kami!" Sebuah doa permohonan yang berubah menjadi sorak kemenangan.
Tetapi kita tahu ke mana cerita ini bergerak. Daun palma yang dilambaikan hari ini, dalam beberapa hari akan digantikan oleh teriakan, "Salibkan Dia!" Mulut yang sama, kerumunan yang kurang lebih sama. Betapa tipis jarak antara mengelu-elukan dan menyalibkan.
Yesus tahu itu. Ia masuk bukan dengan kuda perang, melainkan menunggang keledai, hewan yang sederhana, hewan beban. Ia tidak tertipu oleh sorak-sorai. Ia tahu bahwa pujian orang banyak bukan sandaran yang kokoh. Ia melangkah maju bukan karena disorak, melainkan karena taat kepada Bapa.
Ada juga detail yang mudah terlewat. Orang membentangkan pakaian mereka di jalan yang akan dilalui Yesus. Mereka merelakan yang mereka punya untuk dipijak, sebagai tanda hormat. Pertanyaannya bagi kita, adakah yang kita rela hamparkan di jalan-Nya? Ataukah kita hanya ingin ikut bersorak, tetapi enggan merelakan apa pun?
Di sinilah kita diajak berkaca. Betapa sering iman kita ikut arus suasana. Ketika hidup terasa seperti arak-arakan kemenangan, kita bersorak Hosana. Ketika keadaan berbalik dan salib datang, kita ikut diam, bahkan ikut menjauh. Iman yang hanya bertahan di masa lambaian palma bukanlah iman yang matang.
Pekan ini bukan sekadar mengenang peristiwa lampau. Ia adalah undangan untuk berjalan langkah demi langkah bersama Yesus: dari Yerusalem, ke ruang perjamuan, ke taman yang gelap, sampai ke bukit Golgota. Gereja tidak buru-buru melompat ke Paskah. Ada jalan yang harus ditempuh lebih dulu, dan jalan itu melewati salib.
Pekan Suci mengundang kita berjalan menyertai Yesus bukan hanya di jalan yang ditaburi daun, melainkan juga di jalan yang menanjak ke Golgota. Menemani-Nya bukan hanya saat mudah bersyukur, tetapi juga saat sunyi dan gelap.
Ketika sorak-sorai reda dan salib mendekat, apakah aku masih akan berjalan di samping-Nya?
Tuhan, jangan biarkan imanku hanya sekuat sorak orang banyak. Beri aku kesetiaan untuk mengiringi-Mu sampai ke salib. Amin.