‹ Semua renungan

Jumat, 23 Maret 2029

Dikepung tetapi Ditemani

Ada penderitaan yang lebih menyakitkan daripada dipukul, yaitu dikhianati oleh mereka yang dulu dekat. Yeremia mengalaminya. "Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh," keluhnya. Bukan musuh dari jauh, melainkan teman karib yang menunggu-nunggu kejatuhannya.

Siapa pun yang pernah dibisik-bisikkan di belakang punggung tahu betapa itu melumpuhkan. Rasanya seperti dikepung dari segala jurusan. Yeremia bahkan mendengar julukan yang mereka buat untuknya, "Kegentaran datang dari segala jurusan."

Tetapi di tengah kalimat keluhan itu, ada satu kata sambung yang mengubah segalanya, yaitu "tetapi." "Tetapi Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah." Yeremia tidak berkata bahwa musuhnya lenyap. Ia hanya sadar bahwa ia tidak sendirian menghadapi mereka. Kepungan itu nyata, tetapi teman di sisinya lebih nyata.

Yesus pun dikepung. Dalam Injil, orang-orang kembali mengangkat batu untuk melempari-Nya. Ia menjawab dengan tenang, lalu menyingkir, sebab saat-Nya belum tiba. Ia tahu betul rasa dikepung, dan Ia tetap tenang karena tahu Bapa menyertai-Nya.

Ketika kita merasa dikelilingi bisik-bisik dan tuduhan, godaannya adalah membalas dengan cara yang sama. Yeremia mengajarkan jalan lain: menyerahkan perkara kepada Tuhan yang menguji batin dan hati.

Kepada siapa aku menyerahkan pembelaan diriku, kepada balas dendamku sendiri atau kepada Tuhan?

Tuhan, ketika aku dikepung, ingatkan aku bahwa Engkau berdiri di sisiku seperti pahlawan. Kepada-Mu kuserahkan perkaraku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →