Kamis, 15 Maret 2029
Tukang yang Diam
Di bengkel tukang kayu, yang paling banyak bicara justru bukan mulut, melainkan tangan. Ketukan palu, desis serutan, ukuran yang dicek berulang-ulang. Seorang tukang yang baik dikenal bukan dari kata-katanya, melainkan dari sambungan kayu yang rapat tanpa perlu dipamerkan.
Barangkali itu sebabnya Injil tidak pernah mencatat satu pun kata yang diucapkan Yusuf. Tidak ada satu kalimat langsung darinya, dari awal sampai akhir. Yang dicatat hanya perbuatannya. "Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya." Ia mendengar, ia bangun, ia melakukan. Titik.
Padahal apa yang diminta darinya sama sekali tidak mudah. Maria mengandung sebelum mereka serumah. Menurut hukum dan menurut logika siapa pun, Yusuf berhak marah, berhak mempermalukan. Injil menyebutnya "seorang yang tulus hati," dan buktinya justru ini: ketika ia punya alasan penuh untuk menuntut haknya, ia memilih tidak mencemarkan nama istrinya.
Lalu datang mimpi, dan mimpi itu membalik seluruh rencananya. Ia diminta mengambil Maria, dan menamai anak yang bukan darah dagingnya. Yusuf melakukannya tanpa berdebat, tanpa menuntut penjelasan.
Menarik bahwa Tuhan berbicara kepada Yusuf lewat mimpi, di saat ia tidur, di saat ia paling tidak berdaya dan paling diam. Yusuf mendengar Tuhan bukan di tengah keramaian, melainkan dalam sunyi malam. Dan yang ia dengar dalam sunyi itu, ia kerjakan siang harinya tanpa banyak kata. Barangkali memang begitu: suara Tuhan sering baru terdengar ketika kita cukup hening untuk mendengarnya.
Bacaan pertama berbicara tentang Daud yang ingin membangun rumah bagi Tuhan, tetapi Tuhan berkata Dialah yang akan membangun "rumah" bagi Daud, sebuah keturunan yang kokoh selama-lamanya. Yusuf adalah bagian sunyi dari janji besar itu. Ia menyediakan rumah, nama, dan perlindungan bagi Sang Anak, tanpa pernah masuk sorotan.
Dunia mengajari kita bahwa yang penting adalah yang terlihat dan terdengar. Yusuf mengajari kebalikannya. Ada iman yang paling nyaring justru dalam diam, paling besar justru dalam pekerjaan tangan yang tak seorang pun tepuk tangani.
Betapa banyak "Yusuf" di sekitar kita: para bapa yang bekerja diam-diam, yang menanggung tanpa mengeluh, yang melindungi tanpa minta dipuji.
Adakah ketaatan kecil yang bisa kulakukan hari ini tanpa perlu diketahui siapa pun?
Santo Yusuf, ajari aku iman yang bekerja dalam diam. Tuhan, jadikan aku pelindung yang setia bagi mereka yang Kaupercayakan kepadaku. Amin.