Selasa, 13 Maret 2029
Tiga Puluh Delapan Tahun
Kemarin kita mendengar seorang ayah yang cukup memegang satu kalimat Yesus lalu pulang dengan percaya. Hari ini kita bertemu orang yang justru sudah terlalu lama menunggu: tiga puluh delapan tahun berbaring di tepi kolam Betesda.
Tiga puluh delapan tahun. Lebih lama dari usia banyak orang. Setiap kali air kolam berguncang, katanya menyembuhkan, tetapi selalu ada yang turun lebih dulu. Ia selalu terlambat sepersekian langkah. Bertahun-tahun ia hanya menonton orang lain sembuh.
Yesus menghampirinya dengan pertanyaan yang seakan ganjil, "Maukah engkau sembuh?" Bukankah jawabannya jelas? Tetapi pertanyaan itu tidak ganjil. Ada orang yang sudah begitu lama sakit sampai sakit menjadi rumahnya sendiri. Mengeluh menjadi kebiasaan, menyalahkan keadaan menjadi cara hidup. Sembuh justru menakutkan, sebab sembuh berarti harus bangun, berjalan, dan memikul tanggung jawab lagi.
Orang itu menjawab dengan alasan, "Tidak ada orang yang menurunkan aku." Ia sudah hafal alasannya. Tetapi Yesus tidak menunggu kolam berguncang. "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Selesai. Kesembuhan datang bukan dari air, melainkan dari sabda.
Yehezkiel melihat sungai mengalir dari Bait Suci, menghidupkan segala yang dilaluinya. Sumber hidup itu kini berdiri di tepi kolam, bertanya kepada kita juga.
Adakah "tilam" keluhan yang sudah terlalu nyaman kita tiduri?
Tuhan, kadang aku lebih betah dengan sakitku daripada sembuhku. Beri aku keberanian menjawab: ya, aku mau sembuh. Amin.