Senin, 5 Maret 2029
Terlalu Sederhana
Ada penyakit hati yang aneh: kita lebih percaya pada obat yang mahal dan rumit daripada obat yang murah dan sederhana. Kalau dokter hanya menyuruh banyak minum air dan istirahat, kita kecewa. Kita ingin resep panjang, tindakan besar, sesuatu yang sepadan dengan cemas kita.
Naaman persis begitu. Panglima besar itu datang dengan kuda, kereta, dan sepuluh potong pakaian mahal, siap membayar kesembuhan setinggi harga apa pun. Tetapi Elisa bahkan tidak keluar menemuinya. Ia hanya mengirim pesan lewat suruhan: pergilah mandi tujuh kali di Sungai Yordan.
Naaman gusar. Ia sudah membayangkan nabi itu keluar, memanggil nama Tuhan dengan khidmat, menggerak-gerakkan tangan di atas lukanya secara dramatis. Bukan menyuruhnya membenamkan diri ke sungai keruh yang kalah bening dari sungai-sungai di negerinya sendiri.
Yang menyembuhkan Naaman akhirnya bukan air Yordan, melainkan kerendahan hati untuk menaatinya. Justru pegawainya yang berkata bijak, "Seandainya nabi itu menyuruh perkara sukar, bukankah Bapak akan melakukannya?"
Rahmat sering datang lewat pintu yang terlalu sederhana untuk gengsi kita: sepotong pengakuan dosa, satu kata maaf, satu doa singkat sebelum tidur.
Adakah kesembuhan yang kita tolak hanya karena caranya terlalu bersahaja?
Tuhan, rendahkanlah hatiku sampai aku mau membenamkan diri dalam hal-hal kecil yang Kauperintahkan. Amin.