Minggu, 4 Maret 2029
Dahaga yang Salah Alamat
Barangkali tidak ada yang lebih membuat panik selain kehausan. Lapar masih bisa ditunda, tetapi haus tidak. Ketika air ledeng mati berhari-hari dan ember terakhir sudah kosong, orang bisa jadi mudah marah, mudah bertengkar, mudah menyalahkan siapa saja.
Itulah yang terjadi di padang gurun. Bangsa Israel kehausan, lalu bersungut-sungut kepada Musa, "Mengapa engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami dengan kehausan?" Tempat itu lalu dinamai Masa dan Meriba. Dua kata itu berarti pencobaan dan pertengkaran. Nama sebuah tempat menjadi nama sebuah luka: di sinilah kami meragukan apakah Tuhan sungguh ada di tengah kami.
Tuhan tidak membalas sungut-sungut itu dengan murka. Ia menyuruh Musa memukul gunung batu, dan dari batu yang keras itu keluar air. Dari yang paling mustahil memberi, justru mengalir yang paling menghidupkan.
Berabad kemudian, seorang perempuan datang ke sumur Yakub pada pukul dua belas siang. Jam itu bukan jam menimba. Orang menimba pagi atau sore, saat udara sejuk. Perempuan yang datang tengah hari adalah perempuan yang menghindari tetangga, yang malu, yang punya lima suami dan satu luka yang tak sembuh-sembuh. Ia menimba di jam sepi supaya tak berpapasan dengan gunjingan.
Kepada dia, Yesus yang letih justru meminta minum. Lalu percakapan berbalik. Yang tadinya diminta menjadi yang memberi. "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya."
Perempuan itu haus, tetapi selama ini ia menimba di sumur yang salah. Lima suami tidak memuaskan dahaganya. Kita pun sering begitu. Kita mengira dahaga batin bisa dipadamkan dengan pujian, dengan belanja, dengan pencapaian yang satu lalu yang berikutnya. Kita menimba dan menimba, dan tengah hari kita masih haus.
Paulus menyebut sumber yang benar itu: kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus. Dicurahkan, seperti air atas tanah kering. Dan itu diberikan bukan setelah kita pantas, melainkan "ketika kita masih berdosa."
Yang menakjubkan, sesudah dijumpai, perempuan itu meninggalkan tempayannya di tepi sumur lalu berlari ke kota. Ia datang membawa tempayan kosong untuk diisi air, ia pulang justru meninggalkan tempayan itu karena hatinya sudah penuh. Yang tadinya menghindari orang kini malah memanggil mereka, "Mari, lihat!" Dahaga yang benar, ketika dipuaskan Kristus, selalu berubah menjadi kesaksian.
Prapaskah adalah waktu memeriksa: di sumur mana selama ini aku menimba, dan mengapa aku masih haus?
Tuhan, Engkau letih di tepi sumur demi menungguku. Tunjukkan dahagaku yang sebenarnya, dan berilah aku minum dari-Mu. Amin.