Sabtu, 3 Maret 2029
Bapa yang Berlari
Di kampung, ada ibu-ibu yang tiap sore duduk di teras memandang ujung jalan. Anaknya merantau bertahun lalu dan jarang berkabar. Tetapi setiap kali ada suara motor melambat di depan rumah, hatinya melompat. Barangkali itu dia.
Bapa dalam perumpamaan hari ini rupanya juga begitu. "Ketika anak itu masih jauh, ayahnya telah melihatnya." Kalimat kecil itu menyimpan seluruh cerita. Untuk melihat seseorang ketika ia masih jauh, orang harus sudah lama menanti, hari demi hari, mata tertuju ke jalan yang sama.
Lalu ayah itu berlari. Di Timur kuno, orang tua terhormat tidak berlari, sebab itu dianggap kehilangan wibawa. Tetapi cinta memang tidak menjaga wibawa. Ia menyingsingkan jubah dan berlari menyongsong bau ternak dan keringat anaknya, sebelum anak itu sempat menyelesaikan pidato tobat yang sudah dihafalnya.
Mikha bertanya, "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa?" Jawabannya ada pada seorang bapa yang berlari. Allah kita bukan Allah yang menunggu kita mendaki sampai puncak. Ia turun, Ia berlari, Ia memeluk selagi kita masih bau ternak.
Masih adakah jarak yang kita kira terlalu jauh untuk pulang?
Bapa, Engkau sudah melihatku sejak aku masih jauh. Beri aku keberanian untuk bangkit dan berjalan pulang. Amin.