Jumat, 2 Maret 2029
Jubah yang Membuat Iri
Sepotong jubah bisa merusak sebuah keluarga. Yakub menjahitkan jubah maha indah untuk Yusuf, dan sejak itu saudara-saudaranya tidak bisa lagi menyapanya dengan ramah. Bukan Yusuf yang salah memakainya. Kain itu hanya menjadi cermin yang memantulkan sesuatu yang sudah lama membusuk di dalam dada mereka.
Iri hati punya cara kerja yang licik. Mula-mula ia hanya rasa tidak enak. Lalu menjadi enggan menyapa. Lalu menjadi mufakat di tepi sumur, "Marilah kita bunuh dia." Dari cemburu sampai lubang sumur, jaraknya ternyata pendek.
Yesus menceritakan hal yang sama dengan wajah lain. Para penggarap melihat anak sang tuan datang, lalu berkata, "Ia ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisan menjadi milik kita." Sama persis. Yang dibenci justru yang paling dikasihi bapa.
Yang mengerikan, tidak seorang pun dari saudara-saudara Yusuf merasa dirinya jahat. Mereka hanya merasa diperlakukan tidak adil, dan dari rasa itulah semuanya bermula.
Kita sering mengira dosa besar dimulai dari kebencian. Padahal sering ia dimulai dari perbandingan. Dari diam-diam mengukur diri dengan saudara sendiri, lalu merasa kalah.
Adakah "jubah" milik orang lain yang diam-diam membuat kita tak bisa lagi menyapanya dengan tulus?
Tuhan, cabut iri dari hatiku sebelum ia tumbuh menjadi sumur yang kugali bagi saudaraku sendiri. Ajar aku bersukacita atas jubah orang lain. Amin.