‹ Semua renungan

Selasa, 6 Februari 2029

Sedekat Bibir, Sejauh Hati

Kemarin kita mendengar empat hari pertama penciptaan: terang, langit, laut, dan benda-benda penerang. Hari ini kisahnya mencapai puncak. Setelah ikan, burung, dan segala ternak, Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Dari seluruh ciptaan, hanya manusia yang membawa gambar Allah.

Gambar itu tidak dipahat di kulit. Ia tinggal di kedalaman hati. Maka aneh kalau hidup beragama berhenti di permukaan. Dalam Injil, orang Farisi meributkan murid-murid yang makan tanpa membasuh tangan. Yesus menjawab dengan kutipan Yesaya yang pedas: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Tangan bersih, cawan bersih, kendi bersih, tetapi hati entah mengembara ke mana.

Hari ini Gereja mengenang Paulus Miki dan kawan-kawannya, para martir Nagasaki. Mereka tidak sempat memusingkan kemurnian lahiriah. Yang mereka jaga sampai mati adalah isi hati: kasih kepada Kristus dan pengampunan bagi para algojo. Ibadah mereka tuntas bukan di bibir, melainkan di darah.

Kita bisa rajin ke gereja, hafal doa-doa, tampak saleh di mata tetangga. Pertanyaannya tetap satu: hati kita sedang dekat pada Tuhan, atau sedang jauh?

Tuhan, jangan biarkan ibadahku berhenti di bibir. Tariklah hatiku mendekat kepada-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →