Jumat, 2 Februari 2029
Mata Tua yang Menunggu
Ruang tunggu punya banyak wajah. Ada yang menunggu sambil melihat jam. Ada yang menunggu sambil tertidur. Tetapi ada juga yang menunggu dengan mata menyala, seperti nenek yang menjemput cucunya di terminal. Ia tidak bosan, sebab ia tahu siapa yang akan datang.
Simeon dan Hana adalah penunggu macam itu. Puluhan tahun mereka setia di Bait Allah. Maleakhi pernah bernubuat: dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya. Dan benar, Ia masuk. Bukan dengan iring-iringan kerajaan, melainkan digendong seorang ibu muda dari desa, dengan persembahan orang miskin, sepasang burung tekukur.
Siapa yang mengenali-Nya? Bukan para petugas kenisah yang sibuk. Justru dua orang tua yang matanya mungkin sudah rabun. Rupanya yang membuat orang mampu melihat Tuhan bukan ketajaman mata, melainkan kesetiaan menunggu. Simeon menatang bayi itu dan berkata: mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.
Hari ini Yesus dipersembahkan di kenisah. Pesta ini bertanya kepada kita: masihkah kita menunggu Tuhan dengan mata menyala? Atau kita sudah lelah dan tertidur di ruang tunggu?
Tuhan, jadikan aku penunggu yang setia, agar seperti Simeon aku mengenali-Mu saat Engkau datang. Amin.