‹ Semua renungan

Selasa, 30 Januari 2029

Mata Tua Simeon

Di beranda-beranda kampung ada orang-orang tua yang setia menunggu. Menunggu anak pulang dari rantau, menunggu cucu datang saat liburan. Menunggu bertahun-tahun tanpa jaminan, hanya bermodal percaya bahwa yang ditunggu akan datang.

Simeon adalah penunggu seperti itu. Kepadanya dijanjikan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Maka ia menunggu. Entah berapa puluh tahun. Dan yang akhirnya datang ke Bait Allah bukan raja berpasukan, melainkan sepasang suami istri desa yang menggendong bayi, dengan persembahan orang miskin: sepasang burung tekukur.

Ribuan orang lalu-lalang di Bait Allah hari itu. Hanya mata tua Simeon dan Hana yang mengenali. Mengapa? Karena mata mereka sudah puluhan tahun dilatih oleh doa dan penantian. Orang yang setia menunggu Tuhan lama-lama tahu cara mengenali kedatangan-Nya, bahkan dalam rupa yang paling bersahaja.

Maleakhi menubuatkan Tuhan yang mendadak masuk ke bait-Nya. Mendadak bagi yang lengah, tepat waktu bagi yang menanti.

Tuhan masih sering datang dengan cara yang sama: dalam yang kecil, yang miskin, yang tidak diperhitungkan. Pertanyaannya bukan apakah Ia datang, melainkan apakah mata kita masih terlatih menunggu.

Tuhan, latihlah mataku dengan doa dan kesetiaan, supaya aku mengenali-Mu saat Engkau lewat. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →