‹ Semua renungan

Minggu, 28 Januari 2029

Cahaya Tengah Hari

Kita menyimpan arsip tentang orang. Si A pernah menipu. Si B dulu pemabuk. Arsip itu rapi, dan kita jarang bersedia memperbaruinya. Sekali orang tercatat buruk, catatan itu kita bawa sampai puluhan tahun.

Bacaan pertama hari ini adalah kesaksian orang yang arsipnya paling hitam. Paulus tidak menyembunyikannya: aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati, laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Ia menceritakan dosanya sendiri di depan umum, terang-terangan, tanpa bahasa halus.

Mengapa ia berani? Karena di tengah jalan ke Damsyik, pada waktu tengah hari, cahaya yang lebih terang dari matahari merebahkannya. Dari cahaya itu keluar suara yang mengejutkan: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Bukan menganiaya mereka. Menganiaya Aku. Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang-orang kecil yang dianiaya. Saulus mengira sedang membela Allah, ternyata sedang melukai-Nya.

Yang terjadi kemudian bukan penghukuman, melainkan pengutusan. Engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang. Allah tidak membuang arsip hitam Paulus. Ia memakainya. Justru karena pernah menjadi penganiaya, kesaksian Paulus tentang belas kasih tidak terbantahkan. Bekas lukanya menjadi surat pengantarnya.

Injil hari ini menyambungnya dengan perintah agung: pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Perintah itu diberikan kepada sebelas murid yang baru saja gagal semua, yang lari ketika Gurunya disalibkan. Kelak ditambah seorang bekas penganiaya. Beginilah cara Allah bekerja: Ia mengutus orang-orang yang punya masa lalu, supaya dunia percaya bahwa masa depan bisa lain.

Ini kabar baik ganda. Pertama, untuk diri kita: dosa lama bukan diskualifikasi. Di tangan Allah, bekas yang paling memalukan bisa menjadi bahan kesaksian yang paling kuat. Kedua, untuk cara kita memandang orang: arsip hitam yang kita simpan tentang seseorang mungkin sudah lama kedaluwarsa. Bisa jadi Allah sudah merebahkan dia di jalannya sendiri, sementara kita masih membaca catatan yang lama.

Mengapa engkau masih ragu-ragu, kata Ananias kepada Saulus. Bangunlah, berilah dirimu dibaptis. Pertanyaan yang sama diarahkan kepada kita: mengapa masih ragu bahwa Allah sanggup menulis babak baru, pada hidup kita dan pada hidup orang yang paling kita coret?

Tuhan, hapuslah arsip lama yang kubawa-bawa, tentang diriku dan tentang sesamaku, dan utuslah aku menjadi saksi belas kasih-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →