Sabtu, 27 Januari 2029
Tidur di Buritan
Musim angin di kampung nelayan selalu menyisakan cerita. Perahu yang berangkat tenang bisa pulang setengah tenggelam. Orang laut tahu, badai jarang memberi kabar dulu.
Kemarin Yesus mengajar tentang benih yang tumbuh diam-diam. Petang harinya, kata Markus, Ia mengajak murid-murid bertolak ke seberang. Di tengah danau, taufan mengamuk, ombak menyembur masuk, perahu mulai penuh air. Dan Yesus tidur di buritan.
Murid-murid membangunkan-Nya dengan protes yang sangat manusiawi: Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa? Kita kenal nada itu. Itulah nada doa kita saat sakit tak kunjung sembuh, saat usaha jatuh, saat rumah tangga terguncang. Tuhan, Engkau tidur ya?
Yesus bangun, menghardik angin, dan danau menjadi teduh sekali. Lalu giliran murid-murid yang ditegur lembut: mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya? Teguran itu menarik, sebab Ia tidak menjanjikan danau tanpa badai. Ia menunjuk satu kenyataan yang mereka lupakan: Ia ada di perahu yang sama. Perahu yang memuat Tuhan bisa terguncang, tetapi tidak bisa ditenggelamkan.
Iman, kata surat Ibrani hari ini, adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Termasuk pada saat yang kelihatan hanya ombak.
Tuhan, ketika Engkau seakan tidur dalam badaiku, ingatkanlah aku bahwa Engkau ada di perahuku. Amin.