Kamis, 25 Januari 2029
Saulus, Saudaraku
Bayangkan perasaan Ananias. Orang yang baru tiba di kotanya itu terkenal: pemburu jemaat, pembawa surat kuasa untuk menangkap siapa saja yang berseru kepada nama Yesus. Kepada orang itulah Tuhan menyuruhnya pergi.
Ananias bisa saja menolak, atau menunda, atau datang sambil membawa daftar kecurigaan. Tetapi ia pergi, berdiri di dekat si buta, dan mengucapkan sapaan yang mengubah sejarah: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah.
Saudaraku. Kepada bekas penganiaya. Kata itu pasti tidak murah. Di dalamnya ada luka yang diampuni, takut yang ditundukkan, masa lalu yang direlakan. Dan seketika itu juga Saulus melihat kembali. Mata Paulus dibuka bukan hanya oleh mukjizat, tetapi juga oleh keberanian satu orang biasa menyebutnya saudara.
Pesta Pertobatan Santo Paulus biasanya membuat kita mengagumi cahaya dari langit. Padahal ada mukjizat kedua dalam kisah ini, yang justru paling bisa kita tiru: pengampunan yang berani menyapa lebih dulu.
Mungkin ada nama yang selama ini kita coret. Bekas melukai kita, bekas mengecewakan kita. Siapa tahu Tuhan sedang menunggu kita mengucapkan kata yang sama: saudaraku.
Tuhan, berilah aku keberanian Ananias, untuk menyapa saudara kepada orang yang paling kutakuti dan kuhindari. Amin.