Rabu, 17 Januari 2029
Berdirilah di Tengah
Orang yang sakit biasanya memilih pojok. Yang tangannya cacat menyembunyikan tangan di balik baju. Naluri kita memang begitu: kekurangan disimpan di tempat gelap.
Kemarin orang Farisi mempersoalkan bulir gandum di hari Sabat. Hari ini, masih soal Sabat, mereka memasang mata: kalau Yesus menyembuhkan, mereka siap menuduh. Di rumah ibadat itu ada seorang yang mati sebelah tangannya. Dan Yesus melakukan hal yang mengejutkan. Ia tidak menyembuhkannya diam-diam. Ia berkata: mari, berdirilah di tengah.
Di tengah. Di titik yang paling dilihat semua orang. Kekurangan yang selama ini disembunyikan justru dibawa ke pusat ruangan, lalu dipulihkan di sana. Bagi Yesus, orang itu bukan aib yang perlu diselipkan, melainkan alasan utama rumah ibadat itu berdiri.
Santo Antonius, abas padang gurun yang kita kenang hari ini, mendengar Injil tentang menjual segala milik lalu sungguh melakukannya. Ia pergi ke gurun bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk berdiri di tengah pergulatannya sendiri, berhadapan dengan semua yang selama ini ia hindari.
Tuhan pun memanggil kita: bawalah tanganmu yang mati sebelah itu ke tengah. Ia tidak dapat menyembuhkan apa yang terus kita sembunyikan.
Tuhan, aku membawa cacatku ke hadapan-Mu. Sembuhkanlah tangan yang lama kusembunyikan ini. Amin.