Selasa, 16 Januari 2029
Sabat untuk Manusia
Kemarin Yesus berbicara soal anggur baru yang tidak muat di kantong tua. Hari ini kita melihat contoh kantong tuanya. Murid-murid memetik bulir gandum karena lapar, dan orang Farisi lebih sibuk melihat hari daripada melihat orang: mengapa mereka berbuat yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?
Jawaban Yesus menjadi salah satu kalimat paling membebaskan dalam Injil: hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.
Sabat, dari kata Ibrani shabbat, artinya berhenti. Allah memberikannya sebagai hadiah: satu hari untuk bernapas, memandang wajah keluarga, mengingat bahwa hidup bukan hanya kerja. Tetapi hadiah itu lama-lama dipagari ribuan larangan, sampai orang lapar pun tidak boleh memetik gandum. Hadiah berubah menjadi beban.
Kita bisa jatuh ke lubang yang sama. Aturan doa, tata ibadah, kebiasaan lingkungan, semuanya baik. Tetapi begitu aturan lebih kita bela daripada manusia yang hendak dilayaninya, kita sudah menukar hadiah dengan pagarnya. Yesus tidak menghapus Sabat. Ia mengembalikannya ke tujuan semula: kebaikan manusia di hadapan Allah.
Adakah aturan yang kita pegang keras-keras sambil menginjak orang di dekat kita?
Tuhan atas hari Sabat, ajarilah aku mencintai manusia yang Kaubela, bukan hanya pagar-pagar yang kubangun sendiri. Amin.