‹ Semua renungan

Minggu, 14 Januari 2029

Terang dari Pinggiran

Setiap daerah punya wilayah yang jarang disebut. Kampung yang jauh dari jalan raya, dusun yang baru dikunjungi pejabat kalau musim pemilihan tiba. Orang-orangnya terbiasa tidak diperhitungkan.

Galilea pada zaman Yesus adalah wilayah semacam itu. Orang Yerusalem menyebutnya wilayah bangsa-bangsa lain. Daerah campuran, jauh dari Bait Allah, dicurigai kemurnian imannya. Kalau Mesias datang, semua orang yakin Ia akan memulai dari Yerusalem, pusat segalanya.

Yang terjadi sebaliknya. Sesudah Yohanes ditangkap, Yesus justru menyingkir ke Galilea dan menetap di Kapernaum. Matius melihat di situ tergenapinya nubuat Yesaya yang kita dengar dalam bacaan pertama: bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar. Terang itu tidak terbit di pusat. Ia terbit di pinggiran.

Cara Allah memang kerap begitu. Betlehem, bukan istana. Palungan, bukan ranjang gading. Galilea, bukan Yerusalem. Seakan-akan Allah sengaja memilih alamat-alamat yang tidak masuk hitungan, supaya jelas bahwa tidak ada tempat dan tidak ada orang yang terlalu pinggir untuk didatangi-Nya.

Dan lihatlah siapa yang dipanggil-Nya pertama. Bukan lulusan sekolah Taurat, melainkan nelayan yang sedang menebar jala. Yesus menyapa mereka di tengah pekerjaan, dengan bahasa pekerjaan mereka: kamu akan Kujadikan penjala manusia. Panggilan Allah tidak menunggu kita selesai bekerja. Ia datang di sela bau ikan dan jala basah. Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes menjawab dengan satu-satunya cara yang dimengerti nelayan: meninggalkan jala, lalu berjalan.

Ini kabar baik bagi kita yang merasa hidupnya biasa-biasa saja. Yang merasa kampungnya terlalu kecil, pekerjaannya terlalu sederhana, imannya terlalu sering jatuh. Justru di situ terang itu suka terbit. Sejarah keselamatan hampir selalu dimulai dari orang pinggiran yang bersedia.

Paulus dalam bacaan kedua menegur jemaat Korintus yang mulai terpecah dalam golongan-golongan. Mungkin karena masing-masing merasa paling pusat. Padahal semuanya sama-sama dipanggil dari pinggiran oleh Tuhan yang satu dan sama.

Hari ini, jangan menunggu merasa penting dulu untuk menjawab panggilan-Nya. Yang dibutuhkan bukan tempat yang strategis, melainkan hati yang bersedia. Terang besar itu sudah terbit. Tinggal kita: mau berjalan kepadanya, atau tetap duduk dalam gelap sambil merasa tidak layak.

Tuhan, terbitlah atas sudut-sudut hidupku yang paling pinggir, dan panggillah aku di tengah pekerjaanku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →