‹ Semua renungan

Sabtu, 13 Januari 2029

Meja untuk Orang Sakit

Warung punya hukum tak tertulis: siapa duduk semeja, dialah kawanmu. Orang menilai kita dari teman makan kita. Maka undangan makan tidak pernah netral. Ia sebuah pernyataan.

Kemarin kita mendengar Yesus mengampuni dosa si lumpuh dan orang banyak takjub. Hari ini Ia melangkah lebih jauh. Ia memanggil Lewi, pemungut cukai, profesi yang paling dibenci sekampung, lalu makan di rumahnya bersama para pendosa. Orang Farisi sewot: mengapa Ia makan bersama mereka? Jawaban Yesus tenang dan tajam: bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.

Kalimat itu membalik cara kita beragama. Kekudusan sering kita bayangkan seperti karantina: menjauh dari yang kotor supaya tidak tertular. Yesus membayangkannya seperti tabib: mendekat kepada yang sakit supaya mereka sembuh. Kekudusan yang takut tertular belum selesai belajar.

Surat Ibrani hari ini mengajak kita menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian. Berani, sebab yang duduk di sana bukan hakim yang mencari-cari kesalahan, melainkan Imam Besar yang turut merasakan kelemahan kita.

Siapa yang selama ini tidak pernah kebagian tempat di meja kita?

Tuhan Yesus, tabib segala jiwa, ajarilah aku membuka meja bagi mereka yang disisihkan semua orang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →