Selasa, 9 Januari 2029
Kata yang Berisi
Di kampung mana pun selalu ada dua jenis orang. Yang banyak bicara, dan yang sekali bicara membuat semua orang diam mendengarkan. Anehnya, jenis kedua biasanya justru jarang bicara. Wibawa memang tidak lahir dari kerasnya suara.
Orang Kapernaum merasakan bedanya. Mereka takjub mendengar pengajaran Yesus, sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Para ahli Taurat sibuk mengutip pendapat orang lain. Guru ini berbicara dari diri-Nya sendiri. Kata dan hidup-Nya satu. Bahkan roh jahat tunduk pada satu kalimat pendek: diam, keluarlah.
Surat Ibrani membisikkan rahasianya. Yesus tidak berwibawa dari kejauhan. Ia dibuat sedikit lebih rendah daripada para malaikat, mengalami maut, dan tidak malu menyebut kita saudara. Kata-Nya berbobot karena Ia membayar harganya dengan seluruh hidup-Nya.
Kita sering berharap kata-kata kita didengar. Orang tua ingin didengar anak, pemimpin ingin didengar warga. Jalan pintasnya tidak ada. Kata hanya menjadi berisi bila lebih dulu ditimbang oleh hidup. Nasihat tentang kejujuran hanya bergema dari mulut orang yang jujur.
Hari ini, sebelum menambah kata, mungkin kita perlu menambah bukti.
Tuhan, satukanlah kata dan hidupku, supaya yang kuucapkan tidak lebih besar daripada yang kujalani. Amin.