‹ Semua renungan

Minggu, 7 Januari 2029

Bahasa Bintang

Di kampung yang jauh dari lampu kota, langit malam masih bertabur bintang. Orang tua dulu membaca langit untuk banyak hal. Kapan menanam, kapan melaut, kapan hujan pertama turun. Langit adalah buku yang terbuka bagi siapa saja yang mau menengadah.

Hari raya Penampakan Tuhan bercerita tentang orang-orang yang membaca buku itu. Para majus bukan orang Yahudi. Mereka tidak memiliki Kitab Taurat, tidak mengenal para nabi. Yang mereka punya hanya ilmu bintang, pengetahuan yang di mata orang saleh zaman itu berbau kafir. Tetapi justru lewat bintang, bahasa yang mereka pahami, Allah memanggil mereka.

Ini kabar yang mencengangkan. Allah tidak menunggu orang fasih berbahasa agama dulu baru mau menyapa. Ia berbicara dengan bahasa yang dimengerti pendengarnya. Kepada para gembala Ia mengutus malaikat bernyanyi. Kepada ahli bintang Ia menyalakan bintang. Kepada ahli Taurat Ia membuka gulungan nubuat. Tiga bahasa berbeda, satu undangan yang sama.

Epifani berasal dari kata Yunani epiphaneia, artinya penampakan, tersingkapnya yang selama ini tersembunyi. Paulus menyebutnya rahasia yang kini dinyatakan: orang-orang bukan Yahudi turut menjadi ahli waris. Tidak ada lagi orang luar. Pintu Betlehem tidak berpagar.

Maka Yesaya berani berseru: bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang. Perhatikan urutannya. Terang itu datang dari Allah, tetapi yang disuruh bersinar adalah kita. Orang Jawa punya ungkapan singkat untuk itu: urip iku urup. Hidup itu menyala, memberi terang bagi sekitarnya.

Di sinilah pesta hari ini menyentuh hidup kita. Bintang di atas Betlehem sudah lama tidak kelihatan, tetapi Allah masih memakai cara yang sama. Ia memanggil orang lewat bahasa yang mereka pahami. Lewat kebaikan tetangga. Lewat kesabaran seorang ibu. Lewat kejujuran pedagang kecil. Bisa jadi, bagi seseorang di dekat kita, satu-satunya bintang yang pernah ia lihat adalah hidup kita.

Itu bukan beban yang mustahil. Bintang tidak berteriak. Ia hanya setia menyala di tempatnya, dan pejalan yang merindukan arah akan menemukannya. Kesetiaan-kesetiaan kecil kita pun begitu. Tampak sepele, tetapi bagi orang yang sedang gelap hatinya, itu sudah cukup untuk menemukan jalan ke Betlehem.

Tahun ini, siapa gerangan yang sedang mencari arah lewat terang kita?

Tuhan, Engkau menyapa manusia lewat bahasa yang mereka mengerti. Jadikanlah hidupku bintang kecil yang setia, supaya orang yang jauh menemukan jalan kepada-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →