Senin, 1 Januari 2029
Berkat Sebelum Niat
Awal tahun adalah musim daftar. Orang menulis niat: mau lebih sehat, lebih hemat, lebih rajin berdoa. Daftar itu panjang di bulan Januari dan biasanya sudah hilang entah ke mana sebelum Maret.
Menarik sekali, Gereja membuka tahun bukan dengan daftar niat, melainkan dengan berkat. Pada hari pertama Januari, bacaan pertama memperdengarkan rumusan berkat tertua yang masih dipakai sampai sekarang: Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau. Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya. Tuhan memberi engkau damai sejahtera. Sebelum kita sempat berjanji apa pun kepada Allah, Allah lebih dahulu mengucapkan janji-Nya atas kita.
Kata berkat dalam bahasa Latin, benedictio, tersusun dari bene dan dicere: mengatakan yang baik. Memberkati berarti mengatakan hal baik atas hidup seseorang. Maka tahun baru dalam iman kita dimulai bukan dari tekad manusia, melainkan dari Allah yang mengatakan yang baik tentang kita. Fondasi macam itu jauh lebih kokoh daripada semangat yang gampang kendur.
Lalu Injil menghadirkan Maria. Palungan itu ramai. Para gembala datang tergopoh-gopoh, bercerita tentang malaikat, dan semua orang heran. Di tengah keramaian itu Lukas memotret satu sikap yang sunyi: tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maria tidak buru-buru menyimpulkan, tidak sibuk menyebarkan. Ia menyimpan dan merenungkan. Hari ini kita menghormatinya sebagai Bunda Allah, dan barangkali inilah rahasia kebundaannya: hati yang lapang untuk menyimpan karya Allah yang belum ia pahami seluruhnya.
Paulus merangkum semuanya dalam bacaan kedua: setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya, lahir dari seorang perempuan, supaya kita diterima menjadi anak. Bukan lagi hamba, melainkan anak dan ahli waris, yang berani berseru: ya Abba, ya Bapa. Status itu sudah kita terima. Tidak perlu diperjuangkan sepanjang tahun, cukup dihidupi sepanjang tahun.
Maka mungkin beginilah cara terbaik memasuki tahun yang baru. Pertama, menerima dulu berkat itu, membiarkan Allah mengatakan yang baik atas kita, dengan segala rencana dan kecemasan yang kita bawa. Kedua, meniru Maria: menyimpan dan merenungkan, tidak tergesa menuntut semuanya jelas di bulan pertama. Ketiga, hidup sebagai anak, bukan hamba yang ketakutan.
Tahun bisa baru, cemas bisa lama. Tetapi orang yang tahu dirinya diberkati dan diangkat menjadi anak akan berjalan dengan langkah yang lain.
Ya Abba, ya Bapa, berkatilah tahun yang baru ini. Ajarilah aku menyimpan karya-Mu dalam hati seperti Maria, dan menjalani hari-hariku sebagai anak-Mu. Amin.