Minggu, 31 Desember 2028
Malam Pergantian
Malam ini dunia menghitung mundur. Di kota-kota orang berkumpul menunggu jam dua belas, seolah pergantian angka pada kalender akan mengubah segalanya. Ada yang gembira, ada yang diam-diam menimbang: setahun berlalu, apa yang sudah kudapat, apa yang telah kusia-siakan?
Hari ini Gereja mempertemukan dua hal sekaligus. Kita merayakan Keluarga Kudus, Yesus, Maria, dan Yusuf, dan sekaligus berdiri di ambang tahun yang baru. Sebuah perpaduan yang tidak kebetulan. Sebab tempat kita paling merasakan berjalannya waktu memang keluarga. Di sanalah kita melihat anak bertambah tinggi, orang tua beruban, kursi yang dulu terisi kini kosong.
Injil hari ini justru mengangkat kita di atas hitungan jam. Yohanes tidak memulai dari kalender, melainkan dari kekekalan: "Pada mulanya adalah Firman." Sebelum ada tahun untuk dihitung, Firman itu sudah ada. Dan Firman yang kekal itu memilih masuk ke dalam waktu, lahir dalam sebuah keluarga, tumbuh hari demi hari seperti kita.
Di sinilah penghiburan malam ini. Waktu yang terasa menggerus segalanya justru dimasuki oleh Dia yang tak tersentuh waktu. Ia tidak menonton dari luar. Ia ikut mengalami pagi dan petang, kelahiran dan perpisahan, di dalam sebuah rumah di Nazaret. Dan tahun-tahun panjang di rumah itu hampir tak diceritakan Injil. Tiga puluh tahun yang sunyi, tanpa mukjizat besar, hanya kerja sehari-hari, makan bersama, dan saling menjaga. Rupanya Allah tidak menganggap waktu yang biasa itu terbuang percuma.
Surat Yohanes menyapa dengan nada yang pas untuk ujung tahun: "Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir." Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengingatkan bahwa setiap waktu itu berharga, sebab tak akan terulang. Sing wis kliwat ora bakal bali, yang sudah lewat tak akan kembali.
Maka pergantian tahun bukan sekadar ganti angka. Ia undangan untuk menaruh waktu kita, yang sedikit dan cepat habis, ke dalam tangan Dia yang kekal. Keluarga Kudus mengajarkan bahwa hidup yang biasa, dijalani bersama dalam kasih dan kesetiaan, sudah cukup untuk menjadi kudus.
Ketika lonceng tengah malam berbunyi nanti, kepada siapa aku hendak menyerahkan tahun yang baru ini?
Tuhan, Firman kekal yang masuk ke dalam waktu, kuserahkan kepada-Mu tahun yang telah lewat dengan segala silap dan syukurnya, dan tahun yang baru dengan segala harapnya. Kuduskanlah keluarga kami dalam kasih dan kesetiaan yang sederhana. Amin.