Sabtu, 30 Desember 2028
Perempuan yang Setia
Sesudah Simeon, muncul satu sosok lagi yang mudah terlewat. Hana, seorang nabi perempuan berusia delapan puluh empat tahun. Sudah lama menjanda, ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Puluhan tahun kesetiaan yang tak dicatat siapa pun, sampai tiba saat yang tepat.
Dan ketika saat itu datang, ia tidak menyimpannya sendiri. Ia berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan. Doa panjang yang sunyi selama bertahun-tahun akhirnya meluap menjadi kabar sukacita.
Dunia memuja yang muda, yang cepat, yang baru. Injil justru berhenti sejenak untuk menghormati seorang perempuan tua yang setianya tak pernah ramai dibicarakan. Hana mengingatkan bahwa iman bukan lomba lari cepat, melainkan berjalan jauh tanpa berhenti. Kadang buah dari kesetiaan bertahun-tahun baru masak di ujung usia.
Surat Yohanes memperingatkan agar kita tidak mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, sebab dunia sedang lenyap dengan keinginannya. Hana sudah lama memilih. Ia menaruh hatinya pada yang tinggal, bukan yang lewat.
Adakah kesetiaan kecil dan sunyi yang Tuhan minta kutekuni hari ini, walau tak seorang pun tahu?
Tuhan, berilah aku kesetiaan Hana yang tekun dalam doa dan tak jemu menanti-Mu. Jauhkanlah hatiku dari dunia yang lewat, dan tautkanlah pada-Mu yang tinggal. Amin.