Kamis, 28 Desember 2028
Bayi yang Mengungsi
Belum genap sepekan Natal, dan Injil sudah membawa kita ke sebuah tragedi yang sukar dicerna. Herodes, yang takut kehilangan takhta, memerintahkan pembunuhan semua bayi di Betlehem. Dan keluarga kudus sendiri terpaksa melarikan diri malam-malam ke Mesir. Sang Juruselamat memulai hidup-Nya sebagai seorang pengungsi.
Kita ingin Natal yang bersih, penuh lampu dan lagu. Tetapi Injil menolak menyembunyikan kenyataan. Ada Herodes di setiap zaman. Ada kuasa yang lebih takut kehilangan kursi daripada takut menumpahkan darah anak-anak. Dan ada ibu-ibu yang menangis tak mau dihibur, seperti Rahel, sebab anak-anak mereka tidak ada lagi.
Mengapa Gereja menaruh air mata ini tepat di tengah oktaf sukacita? Mungkin supaya kita tahu ke dunia macam apa Kristus datang. Ia tidak lahir di tempat yang aman, tetapi justru ke tengah dunia yang penuh Herodes, penuh pengungsi, penuh anak tak berdosa yang menanggung kejahatan orang dewasa.
Kemarin Yohanes menulis bahwa ia telah meraba Firman hidup dengan tangannya. Hari ini ia melanjutkan: "Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan." Terang itu tidak menghindari gelap. Ia masuk ke dalamnya.
Di dunia yang masih penuh anak-anak yang menderita karena keserakahan orang dewasa, di pihak siapa aku berdiri?
Tuhan, Engkau datang ke dunia sebagai bayi yang mengungsi. Bukalah mataku pada anak-anak yang menderita hari ini, dan jadikanlah aku terang, bukan bagian dari kegelapan. Amin.