‹ Semua renungan

Rabu, 27 Desember 2028

Yang Diraba dengan Tangan

Ada pengetahuan yang datang dari buku, dan ada yang datang dari sentuhan. Keduanya berbeda. Kita bisa membaca seratus keterangan tentang rasa garam, tetapi satu jumput di lidah mengajarkan lebih banyak. Tubuh punya caranya sendiri untuk tahu.

Yohanes, rasul yang kita kenang hari ini, membuka suratnya justru dengan menekankan tubuh. "Apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu." Dengar, lihat, raba. Ia menumpuk kata kerja indrawi seolah takut kita menganggap imannya sekadar gagasan.

Inilah lanjutan Natal. Firman yang kemarin kita rayakan menjadi manusia bukan dongeng yang manis. Ia benar-benar bisa disentuh. Yohanes pernah menyandarkan kepalanya di dada-Nya. Tangannya pernah menjabat tangan yang kelak berpaku.

Injil hari ini melukiskan Yohanes berlari ke kubur di pagi Paskah, melihatnya dan percaya. Iman yang tumbuh dari mata dan tangan, bukan dari kabar burung.

Iman kita pun tidak boleh melayang di awan. Ia dipanggil menjadi nyata, teraba, dalam roti yang kita bagi dan tangan yang kita ulurkan.

Adakah imanku masih sebatas gagasan di kepala, belum turun menjadi sesuatu yang bisa disentuh orang lain?

Tuhan, Firman yang bisa diraba, jangan biarkan imanku tinggal sebagai gagasan. Jadikanlah ia nyata dan teraba dalam kasih yang kubagikan hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →