Selasa, 26 Desember 2028
Sehari Setelah Palungan
Terasa janggal. Kemarin kita masih menyanyi di depan palungan, hari ini Gereja sudah bicara tentang darah. Baru sehari setelah Natal, kita mengenang Santo Stefanus, martir yang pertama. Dari kandang yang hangat langsung ke lemparan batu. Mengapa Gereja setega itu menaruhnya berdampingan?
Justru karena keduanya satu kisah. Sang Bayi lahir bukan untuk tinggal di palungan, melainkan untuk memberikan hidup-Nya. Dan siapa yang sungguh menerima-Nya akan berjalan di jalan yang sama. Stefanus menunjukkan seperti apa jalan itu.
Di tengah hujan batu, wajahnya tidak dipenuhi dendam. "Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah." Ketika orang lain menutup telinga dan menyerbu, ia justru melihat langit terbuka. Dan kata-kata terakhirnya menggemakan kata-kata Gurunya di salib: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka."
Yesus sudah memperingatkan dalam Injil, "kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat." Mengikuti Dia yang lahir di Betlehem tidak pernah dijanjikan mudah.
Natal yang sejati bukan sekadar kehangatan semalam. Ia keberanian untuk mengampuni sambil dilempari, dan memandang langit ketika dunia menutup pintu.
Tuhan, berilah aku hati Stefanus, yang memandang langit di tengah lemparan batu dan mengampuni seperti Engkau. Jadikanlah Natalku bukan kehangatan semalam, melainkan keberanian untuk setia. Amin.