Senin, 25 Desember 2028
Firman yang Berkemah
Ada kabar yang terlalu besar untuk dikirim lewat surat. Kabar seperti itu menuntut si pembawa datang sendiri, berdiri di depan pintu, dan mengucapkannya dengan wajahnya sendiri. Yesaya sudah merindukan hari itu: "Betapa indahnya kelihatan kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik."
Hari ini Gereja merayakan kedatangan Pembawa Berita yang paling agung. Ia tidak mengirim pesan. Ia datang sebagai pesan. Yohanes membuka Injilnya dengan kalimat yang menjangkau sampai ke awal segala sesuatu: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Firman. Sabda. Dalam bahasa aslinya Logos, akal dan tutur yang menjadi dasar seluruh alam. Sabda yang menjadikan segala sesuatu, yang lebih tua dari bintang, yang tak terhingga dan tak terpahami. Lalu Yohanes menuliskan kalimat yang seharusnya membuat kita berhenti bernapas: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita."
Kata diam di sini, dalam teks aslinya, berarti mendirikan kemah. Sabda yang kekal itu memasang tenda di tengah perkemahan manusia. Ia tidak menyewa istana. Ia menumpang di antara kita, di kandang, dalam tubuh yang bisa lapar, kedinginan, dan lelah seperti kita.
Surat kepada orang Ibrani menegaskan besarnya peristiwa ini. Setelah dahulu berbicara berulang kali dan dalam pelbagai cara lewat para nabi, kini Allah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Segala yang dulu terpecah dalam banyak suara kini menyatu dalam satu Pribadi.
Inilah keajaiban Natal yang tak akan pernah habis dipikirkan. Allah yang tak terhampiri memilih menjadi bisa dipeluk. Yang menopang seluruh alam dengan firman-Nya kini terbaring tak berdaya di palungan. Pikirkanlah sungguh-sungguh. Tangan yang merentangkan langit kini menggenggam jari ibu-Nya. Suara yang dahulu memerintahkan terang untuk jadi kini hanya sanggup menangis meminta susu. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, dan kegelapan tidak menguasainya.
Kabar sebesar itu tidak dikirim dari jauh. Ia datang, berkemah, dan tinggal. Pertanyaannya tinggal satu untuk kita hari ini. Ia datang kepada milik-Nya; sudahkah aku termasuk yang menerima-Nya, dan memberi-Nya tempat, bukan sekadar merayakan-Nya?
Tuhan Yesus, Firman yang menjadi manusia dan berkemah di antara kami, terima kasih Engkau tidak mengirim kabar dari jauh melainkan datang sendiri. Berilah kami hati yang menerima-Mu dan memberi-Mu tempat. Amin.