‹ Semua renungan

Minggu, 24 Desember 2028

Sebelum Fajar

Siapa yang pernah menunggu subuh dalam gelap tahu bahwa saat paling dingin dan paling gelap justru datang tepat sebelum fajar. Ayam belum berkokok, langit masih hitam, dan tubuh terasa paling ngantuk. Tetapi orang yang biasa bangun pagi tahu satu hal yang tak kelihatan: di balik gelap itu, matahari sedang dalam perjalanan.

Malam ini adalah malam terakhir Adven, ambang Natal. Injil menaruh di mulut Zakharia sebuah nyanyian yang kita sebut Benedictus. Sesudah sembilan bulan bisu, lidahnya terlepas, dan kata-kata pertamanya bukan keluhan, melainkan pujian. Ia menutup nyanyiannya dengan satu gambar yang pas untuk malam ini: "Surya pagi dari tempat yang tinggi akan melawat kita, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut."

Surya pagi. Fajar yang belum sepenuhnya terbit, tetapi sudah pasti datang. Itulah posisi kita malam ini. Terang sudah di ambang, tinggal menunggu jam. Malam ini pun disebut Vigili, dan kata itu berarti berjaga. Bukan berjaga karena cemas, melainkan berjaga seperti orang yang tahu tamunya sudah di jalan dan sebentar lagi tiba.

Bacaan pertama membawa kita ke akar janji itu. Raja Daud ingin membangunkan rumah bagi Tuhan. Tetapi Allah membalik rencananya: "Bukan engkau yang membangun rumah bagi-Ku; Akulah yang akan membangun keturunan bagimu. Takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya." Daud ingin memberi Allah sebuah gedung. Allah malah menjanjikan seorang keturunan yang kerajaannya tak berkesudahan.

Betapa sering demikian. Kita sibuk merancang apa yang hendak kita persembahkan kepada Allah, sementara Ia diam-diam sedang menyiapkan hadiah yang jauh lebih besar bagi kita. Kita menawarkan rumah dari kayu; Ia menjanjikan seorang Juruselamat. Kita mengira sedang berbuat sesuatu untuk-Nya, padahal Dialah yang sejak semula sedang berbuat sesuatu bagi kita.

Malam ini gelap memang masih terasa. Dunia belum berubah, luka belum sembuh, banyak doa belum dijawab. Tetapi orang beriman tahu membaca tanda subuh. Ia tidak menyangkal bahwa langit masih hitam. Ia hanya menolak percaya bahwa hitam itu akan menang. Surya pagi sedang dalam perjalanan, dan sebelum kita sempat kehilangan harapan, Ia sudah mengetuk.

Sudahkah hatiku terjaga dan siap membuka pintu ketika fajar itu mengetuk malam ini?

Tuhan, Surya pagi yang melawat kami, terangilah kegelapan kami yang terakhir. Dapatkanlah hati kami terjaga dan siap ketika fajar keselamatan-Mu mengetuk malam ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →