‹ Semua renungan

Minggu, 10 Desember 2028

Meratakan Jalan

Bacaan I Barukh 5:1-9 Mazmur Mazmur 126:1-6 Injil Lukas 3:1-6

Sebelum seorang pejabat besar datang berkunjung ke daerah, ada satu hal yang hampir selalu terjadi lebih dulu. Jalan diperbaiki. Lubang ditambal, rumput di tepi dipangkas, jembatan yang goyah diperkuat. Kedatangan seseorang yang penting selalu didahului oleh kerja meratakan jalan.

Injil hari ini membuka dengan deretan nama besar. Kaisar Tiberius, Pontius Pilatus, Herodes, Hanas, dan Kayafas. Semua penguasa, semua bertakhta. Tetapi firman Allah, kata Lukas, tidak datang kepada satu pun dari mereka. Firman itu datang "kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun". Bukan di istana, bukan di Bait Allah, melainkan di tempat sunyi kepada seorang yang tak berjabatan.

Dan pesan Yohanes hanya satu: "Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung akan menjadi rata."

Gambar ini menarik bila kita balik menjadi pertanyaan batin. Apa lembah dalam diriku, tempat-tempat yang melompong, kecil hati, merasa tak berharga, yang perlu ditimbun oleh pengharapan? Dan apa gunungku, kesombongan, dendam, merasa selalu benar, yang perlu diratakan agar Tuhan bisa lewat? Menariknya, keduanya harus dikerjakan sekaligus. Yang terlalu rendah diangkat, yang terlalu tinggi diturunkan. Pertobatan, ternyata, adalah pekerjaan meratakan jalan.

Nabi Barukh menambahkan sisi lain yang indah. Kepada Yerusalem yang berkabung ia berseru: "Tanggalkanlah pakaian kesedihanmu, dan kenakanlah perhiasan kemuliaan Allah." Adven bukan cuma soal membenahi yang salah. Ia juga soal menanggalkan kesedihan yang sudah lama kita pakai seperti baju. Sebab kesedihan pun bisa menjadi kebiasaan, sehelai baju lusuh yang enggan kita lepas karena sudah terasa seperti diri sendiri. Barukh berani berkata, tanggalkan, dan kenakan sukacita.

Paulus menaruh keyakinan yang menenangkan di tengah semua kerja ini: "Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya." Kita meratakan jalan, tetapi bukan kita yang menyelesaikannya. Yang memulai pekerjaan itu Dia, dan Dia pula yang akan merampungkannya. Betapa melegakan. Kita tidak diminta menjadi sempurna dalam semalam, hanya diminta membuka jalan dan membiarkan Dia meneruskan. Adven pun jadi terasa bukan sebagai beban, melainkan sebagai kerja sama.

Pekan ini, satu lembah mana yang perlu kutimbun, dan satu gunung mana yang perlu kuratakan, agar Tuhan lebih mudah datang?

Tuhan, timbunlah lembah keputusasaanku dan ratakanlah gunung kesombonganku. Selesaikanlah di dalam diriku pekerjaan baik yang telah Kaumulai. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →