Minggu, 3 Desember 2028
Angkat Mukamu
Ada dua cara menunggu. Yang pertama menunduk. Orang yang menunggu kereta yang tak kunjung datang akhirnya menekuk kepala, memandang ujung sepatu, lelah oleh harapan yang tertunda. Yang kedua mendongak. Menunggu sambil sesekali mengangkat wajah ke arah datangnya yang dinanti.
Hari ini Gereja memasuki Adven, tahun barunya. Kata Adven berasal dari adventus, kedatangan. Kita tidak sedang menunggu sesuatu, melainkan menanti Seseorang. Dan Injil hari ini memberi kita aba-aba yang mengejutkan. Ketika dunia gemetar, ketika bangsa-bangsa takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut, justru saat itulah Yesus berkata: "Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."
Aneh, bukan? Ketika semua orang menunduk ketakutan, murid diminta mendongak. Sebab bagi orang beriman, kegoncangan bukan tanda akhir yang menelan, melainkan tanda datangnya Dia yang menebus.
Boleh jadi tahun ini kita mengenali gambar itu dengan getir. Deru dan gelora tidak selalu berupa laut. Ia bisa datang sebagai kabar buruk yang bertubi, ekonomi yang goyah, tubuh yang mulai sakit, atau hubungan yang retak. Iman tidak menyangkal bahwa semua itu ada dan menyakitkan. Iman hanya menolak membiarkan semua itu menjadi kata yang terakhir.
Nabi Yeremia sudah lama menjanjikan itu dengan gambar yang tenang: "Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud." Bukan pohon besar yang jatuh dari langit. Sebuah tunas. Sesuatu yang tumbuh dari bawah, dari tunggul yang tampak mati. Keselamatan Allah hampir selalu datang seperti itu, perlahan dari tempat yang tak diduga. Dan nama yang dijanjikan pun menawan hati: "TUHAN keadilan kita." Keselamatan itu bukan sekadar peristiwa yang lewat, melainkan sebuah nama yang bisa kita panggil.
Lalu apa yang harus kita lakukan selama menanti? Paulus menjawab kepada jemaat Tesalonika dengan sederhana: bertumbuhlah dalam kasih, "bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain". Menanti Tuhan bukan duduk melipat tangan. Menanti yang benar justru membuat kasih kita makin lebar, sampai memuat bukan hanya keluarga sendiri, tetapi juga orang yang sukar kita kasihi.
Empat pekan ke depan bukan sekadar hitung mundur menuju pesta. Ia latihan mengangkat muka. Di tengah kabar yang membuat banyak orang tertunduk cemas, adakah kita masih sanggup mendongak dan berkata, penyelamatanku sudah dekat?
Tuhan, di tengah dunia yang menunduk cemas, ajarilah aku mengangkat muka menanti-Mu, dan mengisi penantian ini dengan kasih yang berkelimpah. Amin.