Senin, 13 November 2028
Iman Tidak Ditimbang
Coba cari benda paling kecil di dapur. Mungkin biji cabai yang menempel di talenan: nyaris tak kelihatan, jatuh ke lantai pun tidak berbunyi. Sekecil itulah biji sesawi yang disebut Yesus hari ini.
Para rasul mengajukan permintaan yang kedengarannya saleh: Tambahkanlah iman kami! Mereka membayangkan iman seperti beras di karung: makin banyak makin aman. Jawaban Yesus membalik timbangan itu: kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat menyuruh pohon ara ini tercabut dan tertanam di dalam laut.
Iman rupanya tidak ditimbang. Yang menentukan bukan besarnya iman, melainkan besarnya Allah yang dipercayai. Iman sebutir yang tertuju kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi sudah menggenggam kuasa yang tidak masuk akal.
Menariknya, permintaan itu muncul persis setelah Yesus menyuruh mereka mengampuni saudara yang bersalah tujuh kali sehari. Di situlah rupanya iman diuji. Bukan di panggung mukjizat, melainkan di meja makan keluarga: mengampuni orang yang sama, untuk kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Untuk itu tidak perlu iman sekarung. Sebutir pun cukup, asal ditanam dan dihidupi.
Tuhan, aku tidak minta iman yang besar. Jadikan imanku yang sebutir ini hidup dan berakar. Amin.