Minggu, 12 November 2028
Dua Kisah Tujuh Bersaudara
Bacaan-bacaan hari ini menyimpan kebetulan yang menggelitik: ada dua kisah tentang tujuh bersaudara. Kisah yang pertama ditulis dengan darah. Kisah yang kedua dikarang sambil tersenyum sinis.
Kisah pertama datang dari kitab Makabe. Tujuh bersaudara dan ibu mereka ditangkap, dipaksa melanggar hukum Allah, lalu disiksa mati satu per satu. Yang mengherankan bukan kekejaman rajanya, melainkan ketenangan mereka. Kata salah satunya: engkau dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal. Bagi mereka kebangkitan bukan teori. Kebangkitan adalah alasan untuk berani mati.
Kisah kedua datang dari orang-orang Saduki, kelompok yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka menghadap Yesus membawa cerita rekaan: tujuh bersaudara menikahi satu perempuan secara bergantian, semuanya mati tanpa anak. Nah, pada hari kebangkitan, istri siapakah perempuan itu? Ini bukan pertanyaan orang yang mencari kebenaran. Ini teka-teki untuk menertawakan. Bagi mereka, kebangkitan hanyalah bahan debat sehabis makan.
Tujuh bersaudara yang sama, dua dunia yang berbeda. Yang satu mempertaruhkan nyawanya pada kebangkitan; yang lain menjadikannya lelucon logika.
Jawaban Yesus menyingkap kekeliruan dasarnya. Orang Saduki membayangkan hidup kekal sebagai sambungan hidup sekarang, lengkap dengan kawin, warisan, dan urusan keluarga. Padahal dunia yang akan datang itu lain sama sekali; mereka yang dibangkitkan tidak dapat mati lagi, sama seperti malaikat. Lalu keluarlah kalimat yang layak dihafal seumur hidup: Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup. Abraham, Ishak, dan Yakub tidak sedang disebut sebagai kenangan masa lalu. Mereka hidup.
Minggu lalu Paulus menenangkan jemaat Tesalonika yang gelisah tentang hari Tuhan. Hari ini ia mendoakan hal yang sama untuk kita: penghiburan abadi dan pengharapan baik, hati yang dikuatkan dalam pekerjaan dan perkataan yang baik. Pertanyaannya tinggal satu: kebangkitan itu bagi kita ada di mana? Di meja debat, atau di jantung hidup, tempat kita berani menaruh segala-galanya?
Allah orang hidup, teguhkanlah pengharapanku akan kebangkitan, agar aku berani hidup benar mulai hari ini. Amin.