Kamis, 9 November 2028
Air dari Ambang Pintu
Yehezkiel diajak melihat sesuatu yang ganjil: air merembes keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci. Mula-mula hanya rembesan kecil. Tetapi makin jauh mengalir makin dalam, menjadi sungai. Dan ke mana saja air itu sampai, laut asin menjadi tawar, ikan-ikan berkeriapan, pohon-pohon berbuah tiap bulan, bahkan daunnya menjadi obat.
Hari ini Gereja sedunia memperingati pemberkatan Basilika Lateran, gereja katedral Bapa Suci di Roma, yang dijuluki induk semua gereja. Apakah kita sedang merayakan sebuah gedung? Bukan. Kita merayakan apa yang mengalir keluar dari dalamnya: rahmat yang menawarkan yang asin dan menghidupkan yang mati.
Yesus sendiri memindahkan titik pusatnya. Ketika membersihkan Bait Allah dari para pedagang, Ia berkata: rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. Yang dimaksudkan-Nya adalah tubuh-Nya sendiri. Bait yang sejati bukan tumpukan batu, melainkan Kristus. Dan lewat pembaptisan, kita ikut menjadi bait-Nya yang hidup.
Maka pertanyaannya pulang kepada kita: adakah sesuatu yang mengalir dari hidup kita? Rembesan kecil saja cukup. Sapaan yang tulus. Kejujuran di pekerjaan. Pengampunan di rumah. Air dari tempat kudus tidak pernah berhenti di ambang pintu.
Tuhan, jadikan hidupku saluran air-Mu, agar yang asin di sekitarku perlahan menjadi tawar. Amin.