Selasa, 7 November 2028
Jalan Menurun
Perhatikan air hujan di halaman. Ia tidak pernah bertanya, tidak pernah tawar-menawar; ia selalu mencari tempat yang paling rendah. Genangan tidak pernah ada di puncak bukit. Dan justru di tempat terendah itulah air berkumpul, menghidupi sumur dan sawah.
Kemarin Paulus meminta jemaat Filipi menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Hari ini ia membuka sumber nasihat itu, sebuah madah yang mungkin biasa dinyanyikan jemaat perdana: Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah, melainkan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Seperti air, Ia turun. Dari takhta ke palungan, dari palungan ke jalanan, dari jalanan ke salib, sampai titik paling rendah yang bisa dicapai manusia. Dan justru dari titik itu Allah sangat meninggikan Dia, sehingga segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan.
Dunia mengajari kita memanjat. Kristus mengajari kita mengalir ke bawah: mengalah dalam pertengkaran kecil, melayani tanpa dilihat, memilih bagian yang terakhir. Aneh memang. Tetapi di jalan menurun itulah hidup ternyata berkumpul.
Yesus yang mengosongkan diri, kosongkan aku dari keangkuhanku, dan isilah aku dengan pikiran serta perasaan-Mu. Amin.