Senin, 6 November 2028
Buku Catatan Sumbangan
Setiap hajatan di kampung punya satu benda penting: buku catatan. Siapa datang membawa apa, ditulis rapi. Orang Jawa menyebut sumbangan itu buwuhan, dan semua orang paham aturan mainnya: kelak, ketika si penyumbang punya hajat, catatan itu dibuka dan dibalas setimpal. Itu bukan kebaikan gratis; itu arisan panjang antartetangga.
Yesus tidak sedang melarang gotong royong. Tetapi hari ini Ia mengusik hitungan kita: kalau engkau mengundang orang yang pasti membalas, apa istimewanya? Undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta. Justru karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas, engkau berbahagia. Balasannya dipindahkan ke buku yang lain: pada hari kebangkitan orang-orang benar.
Paulus menyebut akar penyakitnya dengan lugas: mencari kepentingan sendiri dan puji-pujian yang sia-sia. Kebaikan yang selalu menunggu balasan sebenarnya bukan memberi. Itu menabung.
Coba periksa diam-diam. Adakah nama orang yang kita tolong sambil kita catat dalam hati? Adakah kebaikan yang kita ungkit-ungkit karena belum juga dibalas? Hari ini Yesus mengajak kita merobek satu halaman dari buku catatan itu.
Tuhan, ajarilah aku memberi kepada mereka yang tidak dapat membalas, seperti Engkau terus memberi kepadaku. Amin.