Minggu, 5 November 2028
Setetes Embun
Pagi-pagi, di ujung daun talas, ada setetes embun. Bening, bulat, sempurna. Disentuh sedikit, jatuh. Ditimpa matahari sepenggalah, lenyap. Adakah yang lebih kecil dan lebih singkat daripada setetes embun?
Kitab Kebijaksanaan justru memakai gambar itu untuk seluruh alam raya: seperti sebutir debu dalam neraca, demikian seluruh jagat raya di hadapan-Mu, bagaikan setetes embun pagi yang jatuh ke bumi. Seluruh semesta, dengan miliaran bintangnya, hanya setetes embun di hadapan Allah. Kalimat itu bisa membuat kita merasa tidak berarti. Tetapi bacalah kelanjutannya: justru karena Engkau berkuasa akan segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani. Engkau mengasihi segala yang ada. Andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan. Kita memang kecil, dan justru sebagai yang kecil itulah kita dikasihi.
Zakheus tahu rasanya menjadi kecil. Badannya pendek, dan namanya lebih pendek lagi di mata warga Yerikho: kepala pemungut cukai, kaki tangan penjajah, orang berdosa. Minggu lalu kita mendengar seorang pemungut cukai berdoa jauh di belakang, tidak berani menengadah, dan pulang sebagai orang yang dibenarkan. Hari ini kepala para pemungut cukai itu memanjat pohon ara. Ia hanya ingin melihat Yesus dari kejauhan, tanpa berharap dilihat.
Yang terjadi kebalikannya. Yesus berhenti tepat di bawah pohon itu, mendongak, dan memanggil namanya. Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. Allah yang menggenggam jagat raya seperti setetes embun ternyata sempat berhenti untuk satu orang kecil di atas pohon. Bahkan memakai kata harus. Seolah-olah perjalanan surga belum lengkap tanpa mampir ke rumah seorang pendosa.
Perjumpaan itu mengubah segalanya. Tanpa diminta, Zakheus melepaskan separuh hartanya bagi orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat apa yang pernah diperasnya. Orang yang merasa dilihat dan dikasihi tidak perlu lagi menggenggam apa-apa erat-erat.
Mungkin hari-hari ini kita sedang merasa seperti embun: kecil, sebentar, tidak penting. Dengarlah baik-baik langkah kaki itu. Ia berhenti di bawah pohon kita, dan menyebut nama kita satu per satu.
Yesus, singgahlah di rumahku hari ini, dan ubahlah hatiku seperti Engkau mengubah Zakheus. Amin.