Rabu, 1 November 2028
Cucian Paling Putih
Ibu-ibu di rumah tahu betul: pakaian putih itu paling merepotkan. Kena percikan lumpur sedikit saja langsung kelihatan. Kena kunyit, tamat riwayatnya. Harus direndam, dikucek, dijemur di panas yang pas. Putih itu indah, tetapi mahal perawatannya.
Kitab Wahyu hari ini memperlihatkan kumpulan besar yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, semuanya berjubah putih. Dari mana putihnya? Jawaban tua-tua di hadapan takhta itu mengejutkan: mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Aneh, bukan? Darah itu menodai. Tidak ada ibu yang mencuci baju putih dengan darah. Tetapi di hadapan Allah, justru darah Kristuslah yang memutihkan.
Menarik juga urutannya. Mula-mula Yohanes mendengar angka: seratus empat puluh empat ribu yang dimeteraikan. Terdengar seperti kuota yang terbatas. Tetapi ketika ia menoleh dan melihat, yang tampak justru kerumunan yang tidak dapat dihitung. Surga ternyata jauh lebih lapang daripada hitungan kita.
Di sinilah rahasia pesta hari ini. Orang kudus bukanlah manusia yang lahir tanpa noda. Mereka orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar. Pernah kotor, pernah jatuh, pernah gagal. Bedanya satu: mereka mau dicuci. Mereka tidak menyimpan nodanya rapat-rapat; mereka membawanya kepada Anak Domba.
Surat Yohanes menambahkan penghiburan: sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak. Kekudusan adalah proses yang sedang berjalan, seperti cucian yang masih tergantung di jemuran. Belum selesai, tetapi sudah dimulai.
Maka jangan heran kalau daftar orang berbahagia dalam Injil hari ini bukan daftar orang hebat. Yang miskin di hadapan Allah. Yang berdukacita. Yang lapar dan haus akan kebenaran. Yang dianiaya. Sabda bahagia adalah potret keluarga besar para kudus, dan sebagian besar dari mereka tidak pernah masuk kalender liturgi. Nenek yang setia mendaraskan rosario sampai tertidur. Bapak yang memilih jujur meski hidupnya pas-pasan. Kawan yang berdamai lebih dulu padahal ia yang disakiti. Hari ini pesta mereka juga. Dan mudah-mudahan, kelak, pesta kita.
Tuhan, cucilah jubahku yang kusam ini dalam kasih-Mu, dan hitunglah aku dalam kumpulan besar yang tak terbilang itu. Amin.