Selasa, 31 Oktober 2028
Rahasia yang Besar
Pasangan yang sudah puluhan tahun menikah biasanya tidak lagi banyak berkata-kata mesra. Kasih mereka pindah ke hal-hal kecil: menyisakan lauk kesukaan, mengingat obat yang harus diminum, menunggu di depan pintu tanpa diminta. Diam-diam, tanpa upacara, mereka saling menyerahkan diri setiap hari.
Paulus menulis tentang suami dan istri dengan kalimat yang sering disalahpahami. Ia memang berbicara tentang tunduk, tetapi ia membuka seluruh nasihatnya dengan satu kunci yang mudah terlewat: rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Sebelum ada yang tunduk kepada siapa, keduanya lebih dahulu dipanggil untuk saling merendahkan diri. Dan kepada suami, tuntutannya berat: kasihilah istrimu sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya. Menyerahkan diri, bukan menguasai.
Itulah sebabnya Paulus menyebut pernikahan sebagai rahasia yang besar. Bukan besar karena rumit, melainkan besar karena menjadi gambar. Cara suami istri saling mengasihi, setia, dan menyerahkan diri, sesungguhnya melukiskan kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Kasih yang sehari-hari dan sederhana itu ternyata menyimpan makna ilahi.
Dalam Injil, Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah dengan biji sesawi yang kecil dan ragi yang tersembunyi. Kerajaan itu tidak datang dengan gemuruh, melainkan bertumbuh diam-diam, dari yang kecil, dari yang tak terlihat. Persis seperti kasih yang setia di rumah tangga.
Kasih yang paling ilahi memang sering menyamar sebagai perbuatan yang paling biasa. Hari ini, dalam hal sekecil apa kita bisa menyerahkan diri, dan lewat itu melukiskan kasih Kristus?
Tuhan, ajarilah aku mengasihi seperti Engkau: menyerahkan diri dalam hal-hal kecil, setia dalam yang tersembunyi. Amin.