Senin, 30 Oktober 2028
Punggung yang Diluruskan
Orang yang bertahun-tahun memikul beban berat sering berjalan dengan punggung membungkuk. Buruh gendong di pasar, petani tua yang seumur hidup menunduk di sawah. Pemandangan mereka sama: mata yang hanya bisa memandang tanah, sulit sekali mendongak ke langit.
Injil hari ini menampilkan seorang perempuan seperti itu. Sudah delapan belas tahun ia bungkuk dan tidak dapat berdiri tegak. Bayangkan: selama itu ia hanya melihat kaki orang, debu jalan, lantai rumah ibadat. Dunianya menyempit sebatas tanah. Lukas menyebut ia diikat oleh kuasa yang membungkukkannya, seakan ada beban tak kelihatan yang menekan punggungnya bertahun-tahun.
Yesus melihatnya. Ia tidak menunggu perempuan itu meminta, sebab mungkin ia sudah terlalu lelah untuk berharap. Yesus memanggilnya, meletakkan tangan, dan berkata: hai ibu, penyakitmu telah sembuh. Seketika perempuan itu berdiri tegak, dan hal pertama yang ia lakukan adalah memuliakan Allah. Sesudah delapan belas tahun menatap tanah, akhirnya ia bisa mendongak.
Bukan cuma tubuh yang bisa membungkuk. Ada beban batin yang juga menekuk kita: dendam yang dipelihara, rasa bersalah yang tak dilepaskan, kepahitan yang menahun. Semua itu membuat pandangan kita menunduk terus, sulit menengadah kepada Tuhan. Paulus menunjuk penawarnya: hendaklah kamu ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu. Pengampunan adalah tangan yang meluruskan punggung yang bungkuk oleh dendam.
Hari ini, beban apa yang sudah bertahun-tahun membungkukkan kita, sampai kita lupa rasanya mendongak?
Tuhan, letakkanlah tangan-Mu pada punggungku yang bungkuk oleh beban, dan luruskanlah aku supaya bisa memandang wajah-Mu. Amin.